Rabu, 22 Mei 2024

Masa Lalu

 

14 Mei, di malam hari berpapasan dengan Mas Ihsan sepulang dari kios Mbak Nana. Bukan tanggal merah Masnya liburan. Lek Kar menyapa dan meminta mampir. Kami berempat menikmati kudapan gatot yang di taburi kelapa parut. Meski warnanya hitam rasanya nendang, enak. Ternyata Mas Ihsan bukan liburan tapi izin menghadiri panggilan Pengadilan Agama tadi pagi. Mas Ihsan menceritakan kejadian di Pengadilan Agama. Istrinya datang di PA di dampingi saudara dan pengacaranya. Ketika Lek Kar menceritakan sikap istrinya yang berubah-ubah. Di luar ruangan menekuk wajah dan diam saja. Namun setelah berdampingan dengan pengacara terlihat tersenyum bangga. Mas Ihsan meminta ibunya sabar, memang karakter istrinya manipulatif. Jika ada yang mendukungnya ia akan bersikap narsistik.

Keduanya menjawab tidak ingin melanjutkan pernikahan. Istrinya menjawab tidak bahagia. Hakim menjelaskan kebahagiaan bisa dibangun dalam pernikahan. Mas Ihsan menjelaskan alasan tidak melanjutkan pernikahan karena istrinya selingkuh. Juga meminta Majelis hakim mengubah tuntutan penggugat yang menyatakan meninggalkan rumah setelah ijab kabul karena terbukti masih mengadakan perayaan pernikahan 4 hari setelah ijaban. Selain itu masih mengunjunginya pada bulan puasa kemarin. Gugatan tidak memberi nafkah juga tidak betul, karena setelah menikah diberi kartu ATM yang setiap bulan diisi sesuai kemampuan tergugat. Bahkan menjelang pemilu meminta Iphone seri 12. Majelis hakim menyela, mungkin kurang mahal Mas. Mas Ihsan mejawab jika dia tidak mampu lagi menuruti gaya istrinya. Maklum masih magang. Akhirnya majelis hakim mengetuk palu, memerintahkan masuk ruang mediasi.

Pengacara istrinya berbisik pada mejelis hakim. Memohon diperbolehkan masuk ruang mediasi. Mas Ihsan mempersilahkannya. Mas Ihsan cukup lega ketika masuk ruang mediasi, mediatornya nampak  sangat baik, tawadu’ dan bijaksana. Mas Ihsan menjelaskan pada mediator tidak ingin melanjutkan pernikahan keran istrinya selingkuh. Ketika mediator menanyakan buktinya, Mas Ihsan menemukan bukti gambar porno istrinya yang dikirim pada laki-laki lain. Istrinya langsung menyela, itu masa lalu! Memang masa lalu, foto dibuat satu hari sebelum nikah. masa lalu dari sekarang ini. Tapi sudah terikat tunangan. Mediator bertanya pada istrinya, anda guru? Istrinya dengan percaya diri menjawab, ya saya guru MA. Karena hubungan kami seperti keluarga, saya menepuk bahunya dengan berkaca-kaca. Sungguh perempuan yang kurang peka. Maksudnya mediator bertanya pekerjaannya, karena sang Bapak heran ada guru yang membuat foto bugil dan memberikan pada orang lain.

Tidak ada seorang ibu yang memilihkan istri tidak baik pada anak kesayangannya. Bagi seorang ibu bersahaja, seorang guru MA di pondok pesantren cukup meyakinkan bahwa ia berakhlak baik. Sering bercerita mengikuti kajian dan menjadi orang kepercayaan pondoknya dalam kegiatan wisuda dan kegiatan-kegiatan lainnya. Mediatorpun mendoakan Mas Ihsan kelak mendapat istri yang shalihah. Aamiin

Ujian Lelaki Shalih dan Santun


7 Mei di pagi buta Lek Kar sudah mengantar sayur gude. Nampak lezat, santannya kental menempel pada polong gude. Menitip kunci rumah, ternyata Lek Ker hendak mengantar anaknya ke Pengadilan Agama. Perkawinan sudah tidak bisa dilanjutkan. Kemarahan seorang suami yang melihat hp istrinya terdapat gambar tidak senonoh yang dikirimkan pada orang lain. Menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca. Begitu teganya mempermainkan pernikahan. Padahal Lek Kar menganggap menantunya seperti anaknya sendiri. Logikanya jika memenuhi undangan Pengadilan Agama, tentunya masih ingin melanjutkan pernikahan. Jika tidak pastinya tidak didatangi biar cepat selesai.Untuk apa mempertahankan perempuan yang tidak mampu menjaga marwah dirinya.

Pukul 07.37 WIB Lek Jo mengambil kunci. Beliau baru pulang dari sawah, mengikat padi yang leseh dihempas angin. Musim angin, padi yang hendak dipanen leseh sejajar tanah. Ketika basa basi Lek Jo tak sengaja menceritakan (curcol) keinginan Ihsan mendatangi Pengadilan Agama. Bukan ingin mediasi melanjutkan pernikahan. Tapi ingin meluruskan pada Dewan Hakim Pengadilan Agama bahwa gugatannya tidak ada yang benar. Ketika Ihsan izin pulang, teman-teman di kantornya memberi support untuk mendatangi panggilan. Wah, ternyata Mas Ihsan mendapat support system. Semoga dukungan mental dan emosional dari teman-teman menguatkannya. Teman-teman di kantornya sepakat  agar tidak ada lagi laki-laki baik yang menjadi korban perempuan itu. Tidak melaksanakan tugasnya sebagai istri yang baik, justru bergaya hidup layaknya orang kalangan atas. Perempuan yang tidak tahu balas budi, tidak menghargai kebaikan orang lain. 

Sore harinya Lek Kar bertandang ke rumah. Ternyata di PA tidak lama hanya mencocokkan data. Fihak perempuan tidak datang. Mewakilkan pada pengacaranya. Pengacaranya seorang wanita yang telah berumur. Di ruang tunggu PA Si Pengacara menanyakan adakah keinginan putra Lek Kar melanjutkan pernikahan. Pengacara tersebut menanyakan sampai tiga kali dijawab tegas, tidak! Lek Kar bukan orang modern, jadi baginya pergaulan bebas adalah tabu. Pengacara itu apakah tidak punya anak? Gimana jika kelak si pengacara ada di posisinya? Kok mau membela perempuan tidak benar? Begitulah pertanyaan Lek Kar. Bisa jadi pengacara hanya menuliskan laporan sepihak dari penggugat. Bisa pula gugatan dibuat menekan tergugat biar cepat selesai dan menerima uang lelah. Bisa pula istri Ihsan manipulatif mampu berperan sebagai orang tersakiti dihadapan pengacaranya. Itulah prediksiku. Semoga Lek Kar memperoleh keadilan.

Ya Allah semoga Mas Ihsan yang santun, shalih dan baik hati kelak menemukan perempuan yang benar-benar baik dan shalihah. Yah, tidak semua guru bergaya hidup modern dan mengikuti pergaulan bebas. Masih banyak ibu guru yang baik dan shalihah.


Selasa, 21 Mei 2024

Cara Allah Menolong Hambanya

 

30 April Lek Karjo terlihat termangu. Sesekali tersenyum miris, antara marah dan sinis. Mengulurkan amplop coklat. Pukul 16.45 WIB cuaca sejuk, maka kami mendiskusikan isinya di pematang sawah. Para petani mulai naik, menapaki pematang mengucapkan salam perpisahan pada tanaman palawijanya. Maklum sawah ini cukup tinggi tidak bisa ditanami padi. Namun hasilnya melebihi padi. Cabe yang mulai memerah, bawang merah daunnya sudah tak hijau lagi, begitu pula melon dan mentimun. Lek Kar memulai bercerita. Mendengar kisahnya, terasa sesak dada ini. Lek Kar akhirnya menyadari bahwa dirinya memang orang jadul. Berprinsip ilmu agama yang diresapinya terasa masih sedikit tapi dilakoni. Orang yang mengatakan agama yang ditekuni cukup tinggi. Selalu izin ikut kajian di berbagai kabupaten, namun berprilaku tidak senonoh. Prilaku seperti itu menurut Lek Kar tabu, apalagi dilakukan seorang guru. Tanpa menyela, tetap mendengarkan curhatannya. Biar yang menyesakkan hatinya terurai, lebur bersama semilirnya angin sore.

Ketika Lek Pri naik ke pematang mengantar mentimun, kami menyapanya. Diskusi jeda sejenak, fokus membicarakan harga hasil petani yang naik turun seperti iman manusia. Lek Pri undur diri, kamipun mengucapkan terimakasih atas kebaikannya. Beginilah enaknya rumah MeWah (Mepet saWah). Pernah suatu ketika Lek Pri mengerjakan orang memanen bawang merah, kala itu bawang merah lagi meroket harganya. Langkah kaki tak hentikan, balik kanan tidak jadi metik sayur. Jangan sampai ditawari bawang merah. Alhamdulillah sorenya, sudah ada beberapa gantang bawang merah. Semoga Allah melapang rezekinya.

Lek Kar mencoba menegakkan dadanya, hembusan nafas berat, rapuh! Beberapa kali terdengar bibirnya beristighfar dan membaca kalimat thayyibah hauqalah. Mencoba menenangkannya dengan bertutur sederhana. Tidak semua guru berani memotret dirinya dalam kondisi vulgar dan mengirimkan pada orang lain. Ribuan guru-guru perempuan mampu menjaga marwah dirinya. Menjaga nama baik profesi dan instansinya. Banyak guru yang taat pada suami dan mertuanya, meskipun mengajar di sebuah madrasah yang sederhana.

Bila adanya guru yang mengajar di sebuah instansi yang menurut kami istimewa dan melakukan hal yang tidak baik. Dia hanya segelintir sosok yang belum mampu menahan hawa nafsunya. Tergiur bujuk rayu syetan dan kenikmatan sesaat, melupakan kehormatan dirinya sebagai calon madrasah pertama bagi putra putrinya kelak. Dengan memeluk erat tubuhnya yang terisak-isak. Tutur sederhana yang bisa dibisikkan, mungkin ini cara Allah menyayangi keluarga Lek Kar. Andai lanjut bermaksiat, menginap di tempat lain, melarikan diri dari rumah, pulang lagi, dan terus menerus dilakukan. Kasihan suami yang telah bersusah payah mencari nafkah justru istrinya demikian. Belum lagi penyakit yang akan tertular bila seperti itu.

Sesungguhnya Allah sedang menolong hambanya yang tulus dan taat pada-Nya. Meskipun dengan cara yang menyesakkan dada. Namun bila kita tetap berada di jalan yang lurus dan tidak membalas perbuatannya. Isnya Allah akan diganti yang lebih baik dan shalihah berbakti pada suami dan mertua. Aamiin.

Minggu, 19 Mei 2024

Istri yang Memiliki Sikap Tawadhu’

 



Perempuan  karir yang memiliki sikap tawadhu’ terhadap suami merupakan perempuan luar biasa. Tidak menganggap suami lebih rendah darinya baik dari segi pendapatan maupun pengetahuan. Mampu menghargai suami dan buah hatinya. Memiliki kemampuan  menjaga komunikasi yang baik dengan anggota keluarga. Mendiskusikan pembagian tugas dan kewajiban dengan proporsi yang bijak. Memiliki cinta kasih yang tak luntur untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga. Mampu menyelesaikan rintangan dengan santai dan tawakal pada Allah. Tangguh menerima ujian hidup yang tak sesuai ekspektasi. Segala cobaan, anugerah maupun karunia kita hadapi dengan tawakal, ikhlas dan penuh rasa syukur sehingga mendatangkan ketawadhu’an.

Namun terkadang anugerah sebagai sosok multasking, bisa menjalankan berbagai pekerjaan dalam satu waktu. Memiliki gaji dan jabatan yang lebih tinggi dari suami menjadikannya takabur dan semena-mena terhadap suami. Istri menjadi sangat dominan dalam mengambil keputusan. Suami harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Mulai dari ngurus anak, ngepel, masak, cuci baju maupun cuci piring. Semakin eksis di dunia kerja bisa jadi keluarga menjadi korban dan mendatangkan mudharat bagi keluarga.

Jika terjadi demikian, maka niat kita menjadi wanita karir wajib direvisi. Semua anugerah sebagai wanita karir ini wajib disyukuri, dinikmati dan dilakukan dengan tujuan ibadah lillahi ta’aala. Seyogyanya kita meminta dukungan dan doa dari suami dan buah hati. Karena rezeki kita yang lebih tinggi dari suami merupakan nikmat Allah kepada keluarga kita. Tentunya melalui gaji istri yang lebih tinggi. Ini merupakan sedekah bagi istri yang telah menafkahi keluarganya.

Wanita karir merupakan impian banyak perempuan. Ketika ditakdirkan menjadi wanita karir maka marilah kita awali dengan mengucapkan rasa syukur atas segala kekurangan dan kelebihan yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Mengawali tekad kuat menjalani takdir ini dengan ikhlas agar hidup lebih damai meskipun belum sesuai dengan ekspektasi. Mempersiapkan hati untuk menerima ujian dan anugerah  dengan ikhlas dan tawakal. Agar hidup terasa ringan. Semoga Allah menjadikan putra putri kita berbakti pada orang tua dan guru. Taat pada Allah dan menjadi anak yang shalih dan shalihah. Tetap taat dan berbakti pada suami sesuai tuntunan Al-Quran dan Al Hadits. Aamiin.