Minggu, 31 Juli 2022

Sejarah MIM Kamulan

 

Pada hari Minggu tanggal 31 Juli 2022, pukul 15.44 WIB Kepala Madrasah menghendaki  saya menjadi pembina upacara. Karena pergantian pembina upacara ini memang menjadi pembiasaan bagi guru di MIM Kamulan. Untuk itu saya harus siap menjadi pembina pada kegiatan upacara hari Senin tanggal 1 Agustus 2022. Upacara ini sekaligus menandai Milad MIM Kamulan ke 50. Beliau menginginkan saya menyampaikan sebuah tema "Sejarah Berdirinya MIM Kamulan”.  Tentunya sangat aneh jika tugas ini tidak dapat saya selesaikan dengan baik. Karena saya telah mengabdi selama 31 tahun, maka saya berupaya mencari informasi yang valid tentang sejarah MIM Kamulan. Sejarahnya MIM Kamulan akan saya paparkan secara singkat.

MIM Kamulan merupakan sebuah lembaga pendidikan dasar milik persyarikan Muhammadiyah ranting Kamulan. MIM Kamulan berdiri sejak tanggal 1 Agustus 1964, sesuai dengan piagam berdirinya MIM Kamulan dari Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Timur tanggal 20 Maret 1978 Nomor Lm/3/2278/A/1978. MIM Kamulan, pada awalnya merupakan madrasah masuk sore dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kamulan. Mata pelajaran yang disampaikan oleh para pendidik saat itu adalah mata pelajaran agama Islam dan pengetahuan umum. Dengan kurikulum seperti itu mendapat tanggapan positif dari masyarakat, sehingga perkembangan peserta didik dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Karena perkembangan peserta didik mengalami peningkatan, maka pada tahun 1969, dibukalah madrasah yang masuk pagi. Di samping pembelajaran pada sore hari masih tetap dilaksanakan. Madrasah yang masuk pagi ini justru lebih diminati masyarakat, sehingga jumlah muridnya semakin bertambah.

Kondisi MIM Kamulan dengan kurikulum yang sama, tetapi ada yang masuk dan pagi, menggugah pemikiran baru para pendiri MIM Kamulan. Maka pada tahun 1973, diambillah kesepakatan bahwa madrasah sore diubah menjadi madrasah Diniyah Muhammadiyah atau Madim dengan 2 tingkat yaitu Madim Ula dan Wustho, sedangkan yang masuk pagi tetap Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah atau MIM Kamulan. yang terus berkembang pesat sampai sekarang. Di bidang kesiswaan telah banyak, ribuan putra-putri warga masyarakat yang pernah duduk di bangku MIM Kamulan. Di antara mereka, banyak yang sukses sebagai ASN baik sebagai guru, polisi, tentara, dan lain-lain. Ada juga yang menjabat sebagai pegawai BUMN, perangkat desa maupun pengusaha sukses.

Dibidang tenaga pendidikan lebih dari 60 orang guru yang pernah mengabdi di MIM Kamulan. sebagian guru diangkat oleh persyarikatan dan sebagian lagi guru yang ditugaskan oleh kementerian Agama Kabupaten Trenggalek. Nama-nama guru yang diangkat persyarikatan antara lain Almarhum  Bapak Zarkasi, Almarhum Bapak Subarjan, Almarhum Bapak Ahmad, Almarhum Bapak Katimin, Almarhum Bapak haji Selanudin, Almarhumah Ibu Subnatun, Bapak Imam Musaji, Ibu Anawiyah, Ibu Purwati dan lain-lain. Baik yang sudah tidak aktif sebagai guru MIM maupun yang sekarang masih aktif mengajar sebagai guru di madrasah ini. Adapun nama-nama guru ASN dari Kemenag antara lain Almarhum Bapak Paijan, Almarhum Bapak Drs. Sayuri, Almarhum Bapak Kusbanan, Almarhum Bapak Mukarodin, Almarhum Bapak Marjuki, Almarhum Bapak Imam Kurmen, Bapak Drs. Haji Samsuri dan masih banyak  lagi nama-nama mereka karena jumlah guru ASN Kemenag yang bertugas di MIM Kamulan lebih dari 25 orang.

Selanjutnya selama 58 tahun telah mengalami 6 kali pergantian pimpinan, kepala madrasah pertama yang dijabat oleh Almarhum Bapak Zarkasi, kemudian tahun 1975 tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Bapah Haji Selanudin sampai tahun 1981. Dengan adanya kepala madrasah definitif, maka sejak itu kepala madrasah dipimpin oleh Almarhum Bapak Imam Sayuti. Karena  pada 1 Juli 2002 Almarhum Bapak Imam Sayuti memasuki masa pensiun, maka Beliau diganti oleh Almarhum Bapak Mukari. Pada  tanggal 1 Agustus 2009 Almarhum Bapak Mukari pensiun, akhirnya persyarikatan  memberi amanah pada  Ibu Anawiyah untuk mengemban amanah sebagai kepala madrasah. Akhirnya pada tahun 2020 kepemimpinan di amanahkan kepada Bapak Ibnu Mubarok sampai sekarang.

 

 

 

Senin, 06 Juni 2022

CERBUNG PART 5. GHOSTING

 

Selamatan  keempat puluh hari meninggalnya Ibu, dilaksanakan di masjid dekat rumah. Semua makanan dan minuman pesan dari catering. Mbak Aghna pesan dari catering ‘Raos’ Sukorame. Semua kami lakukan agar para jamaah yang melaksanakan doa bersama merasa ikhlas dan lega hati. Karena memang keluarga kami dinyatakan positif covid-19. Pihak katering meminta semua beaya untuk menu selamatan dikirim via transfer. Hal itu untuk menjaga kesehatan semua fihak. 

Ting! Gawaiku bergetar. Ada pesan masuk. Senyumku merekah. Seperti bunga yang terguyur air hujan. Mas Yanu ....

[“Assalamualaikum, Dik!”] 

Mas Yanu mengirim pesan. Alhamdulillah! Telah lama aku menunggu kabar darinya. Sudah hampir dua bulan sejak Ibu tiada. Baru kali ini ada pesan untukku. Semoga petanda baik.

[“Waalaikum salam, Apa kabar Mas?”]

Pertanyaanku untuk membuka perbincangan.

[“Alhamdulillah baik. Dik, ini hasil diskusi keluarga hubungan kita tidak bisa lanjut. Maaf…”]

Bak tersambar petir! Aku tercekat. Kok bisa jadi begini. 

[“Apa Mas? Adakah salahku, Mas!”]

[“Tidak ada. Hubungan ini tidak bisa dilanjutkan karena pamanku menikah dengan orang Trenggalek juga! Ini pantangan bagi keluargaku”]

[“Kok, aku belum pernah dengar ya Mas. Adat beginian!”]

Larangan menikah anak pertama dengan anak ketiga, menikahnya anak petama dengan anak pertama, menghindari pernikahan di bulan Sura/Muharam, larangan menikah dengan tetangga berseberangan, perhitungan weton jodoh. Mitos begitu pernah dengar. Tapi jika paman dan keponakan sama-sama menikah dengan warga sekabupaten, mitos ini kayaknya baru dengar. 

Hampir  satu jam, menunggu pesanku terjawab. Kualihkan perhatianku dengan mempersiapkan materi mengajar daring untuk anak-anak. Besok  kepala madrasah menghendaki aku mengajar via zoom. Ku tengok ulang gawaiku.

Tidak ada jawaban. Akupun diblokirnya. Layaknya aku telah jatuh ketimpa tangga pula. Air mataku berderai.

Ibu… andai dirimu ada. Pastinya aku akan menangis dipelukanmu. Ibu…setiap hati akan berubah seiring waktu, kecuali hati ibu. Ia adalah surga selamanya.

              Perbincangan via Whatsapp kemarin, akhir dari hubunganku dengan Mas Yanu. Ghosting!! Ia benar-benar menghilang. Hubungan kami yang seharusnya menuju ke ijab kabul, tiba-tiba hangus. Batal! Tiada berharganya hubungan selama 3 tahun. Kedua fihak telah melakukan lamaran, sisetan dan kini tinggal selangkah. Covid-19 benar-benar telah merenggut asaku…

              “Pit, kamu harus tetap berdiri tegak. Usia telah 22 tahun. Masak dengan masalah begini saja kamu terpuruk. Ayo bangkit! Tidakkah kamu kasihan dengan bapak dan adikmu? Keduanya butuh kamu, Pit!”

              “Ibu…,” teriakku. Aku segera bangun, terduduk! Ibu menasehatiku, dalam mimpi. Allahu Akbar! Ternyata pukul 00.15, dini hari. Kuambil air wudhu. Di atas sajadah tangisku tumpah.

                    “Pit, ambil wudhu kembali, gih,” kata Bapak sambil mengusap pundakku.

               Bapak telah khusuk shalat malam ketika aku kembali dari kamar mandi. Akupun segera melaksanakan dengan khusuk. Dengan gigih kutahan agar air mata ini agar tidak tumpah.

 

 

Senin, 30 Mei 2022

CERBUNG PART 4. Meme Belasungkawa

 


Pagi itu aku berangkat sekolah, ada jam pembelajaran Alquran Hadits dan SKI. Meskipun separuh hatiku ada di rumah, tetap mengajar dengan profesional. Sejenak melupakan kondisi Ibu. Dengan prokes yang ketat menyampaikan pembelajaran dengan baik. Selesai pembelajaran mengikuti kelas mengaji metode UMMI bersama Ustadz Hadi. Mencoba fokus memperhatikan pembelajaran gharib. Namun konsentrasiku telah lenyap, beberapa kali melafalkan bacaan imalah dan isymam tetap salah. Betapa konsentrasiku lenyap. Cukup malu sebagai guru Alquran Hadits banyak salah dalam membaca Alquran. Wajah ini tak mampu mendongak. Terlihat ekspresi kecewa dari Ibu Koordinator UMMI. Ting! Ada notifikasi masuk di Whattsap, dari adik.

[“Mbak… pulang Ibu pelat!”]

Ibu semakin parah, lidahnyapun sudah kelu untuk melafalkan kalimat.

[“Ok… Aku segera pulang!”]

Segera izin dengan Ibu koordinator mengaji UMMI. Melajukan kendaraan 50 km perjam, dengan berurai air mata.

Sampai di rumah semua saudara dekat Ibu, setuju Beliau di rujuk ke RSUD Iskak. Sampai di sana Ibu diswab hasil positif. Kami tidak bisa merawat dan mendampinginya sedekat mungkin. Komunikasi dilakukan dengan melalui Video Call. 

“ Suster! Kenapa aku terbaring di sini! Aku mau pulang!,” desak Ibu pada perawat yang mendampinginya.

“Iya, Bu. Ibu segera pulang jika sudah sembuh total.”

“Pit, belikan Ibu roti, susu beruang dan air mineral, ya!,” begitu pesan nya via Video Call. 

Kemudian Ibu dibawa ke Pulmonary Center, ruangan yang disiapkan untuk menjadi tempat perawatan intensif bagi pasien COVID-19 yang memerlukan alat bantu pernafasan mekanik atau ventilator.

Terlihat Ibu tidak melawan ketika dipasang ventilator.

“Mohon maaf, Ibunya Mbak Pipit saturasi oksigennya masih naik turun.”

 “ Iya, Sus! Terimakasih telah merawat Ibu dengan baik.”

Telihat seorang dokter dan perawat yang menggunakan APD lengkap sedang memeriksa Ibu dengan cermat. Ibu nampak gelisah. Tindakan berikutnya Ibu di kejut jantung. Tidak ada hasilnya. Aku mulai khawatir.

“Mohon maaf, Mbak Pipit. Ibu telah tiada.”

Jawaban tidak mampu aku lontarkan dari bibir ini, kecuali hanya mengangguk-angguk. Adik merengkuhku dengan hangat. Air mata tidak terbendung lagi. Ibu di mandikan dan dikafani sebagaimana layaknya seorang muslim oleh petugas perempuan. Ketika saya mengkonfirmasi pada dokter. Ibu telah di kafani 7 lapis. Ketika peti dibuka. Alhamdulillah, Ibu tersenyum terus wajahnya. Wajah itu bersih sekali. Prosesnya sangat cepat, ambulan telah siaga. Sampai di rumah, jenazah Ibu dishalatkan meskipun posisinya tetap dalam ambulans.   

Tidak banyak pelayat yang datang. Sedihku menggunung. Kerabat dekatpun yang datang bisa dihitung dengan jari. Diriku seakan dalam posisi terendah. Ayahku nampak tegar, aku dan adik yang benar-benar terpuruk. Mbak Aghna masih dalam perjalanan pulang dari Nganjuk. Aku kehilangan pegangan. Ayah menasihatiku agar tawakal dan ikhlas. Tawakal pada Allah SWT.

“ Ya, Allah! Tabahkan hatiku. Terimalah seluruh amal ibadah Ibuku.”

Doaku dengan bahu tergoncang dahsyat. Sudah seminggu Ibu berpulang. Calon imamku, tidak juga melayat. Dengan hati tersayat sembilu, kutatap halaman rumah. Menunggunya siapa tahu ia datang dengan sebongkah motivasi, yang menguatkanku. Perih dada ini! Kutatap layar mungil, ia hanya mengucapkan bela sungkawa dengan meme. Mengapa jari-jarinya enggan menuliskan motivasi dan ucapan bela sungkawa. Bukan hanya meneruskan meme bela sungkawa. Astaghfirullah.

Minggu, 29 Mei 2022

CERBUNG PART 3. Tamu Berjubah Putih

 

Keadaan Ibu belum pulih total. Memasuki hari ketiga menjalani ‘obat jalan’, rawat di rumah dengan obat dari dokter. Karena tidak ada perubahan, Mbak Aghna  menghendaki ibu berobat ke dokter Kris yang praktik di Kecamatan Gandusari. Hasil diagnosa, Ibu menderita darah rendah (hipotensi), maka  kubelikan nasi bebek goreng. Alhamdulillah, Ibu berkenan menikmatinya. Bu Dhe menjenguk ke rumah, pandangan Ibu makin kosong, seperti melamun. Entahlah, terpaksa aku izin lagi. Tidak masuk sekolah. Sebagai guru baru sebenarnya malu jika sering tidak masuk sekolah. Namun kondisi Ibu sedang tidak baik-baik saja. Alhamdulillah, kepala madrasah sangat suport dan para guru memberikan motivasi positif. Merasa bersyukur.

Mbak Aghna sudah kembali dinas ke Nganjuk. Kondisi Ibu mengkhawatirkan, segera aku periksakan lagi ke Klinik Bendo. Lunglai tubuhku, katanya saturasi oksigen rendah harus di rujuk ke RSU dokter Sudomo Trenggalek. Namun keluarga menghendaki di rawat ke Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Di sana dokter jaga menyatakan saturasi oksigen normal, tensi juga normal.

“ Dokter, aku siap diinfus. Jika itu solusi terbaik, “ kata Ibu terlihat tenang.

Dokter jaga  memandang Ibu dengan tatapan teduh. Ibu nampak  membaik, senyumnya membuatku lega. Begitupun Om Ridwan yang mengantarkan kami.

“ Iya, Bu!” jawab dokter sambil tersenyum.

Dokter memberi isyarat agar aku mengikutinya ke ruang konsultasi. Sampai di ruangannya dengan santun dokter memberikan penjelasan.

“Mbak, maaf kondisi ruang inap sudah penuh. Kami selaku dokter jaga, mohon maaf tidak bisa membantu.”

“ Tak apa-apa, Dok!,” jawabku gusar.

“Baiklah, Dok. Kami mohon pamit.”

Ibu berjalan dari ruang periksa ke mobil, tanpa bantuan kami. Sampai di rumah Ibu minum obat dan menikmati ‘jenang baning’. Ibu tidur dengan lelap.

“Assalamualaikum, apa tujuanmu menjengukku!” seru Ibu. “Aku sudah membaik.”

Ibu mengigau! Ibu seperti sedang berbincang dengan seseorang. Aku bangunkan atau tidak! Dalam kondisiku yang lagi gamang, Ibu memanggil. Aku raih tangannya, kupeluk erat.

“Ibu mimpi baik, ya?”

Ibu menggeleng, matanya sayu. Padahal ini masih tengah malam. Beliau nampak resah, airmatanya berlinang.

“Pit, aku didatangi orang berjubah putih.”

“ Hanya mimpi, Bu. Mimpi bunga tidur,” kataku menghiburnya.

Sabtu, 28 Mei 2022

Makam di Tengah Jalan


Siang itu, pulang dari mengajar melewati jalan desa. Tak menyangka jalan itu sudah tidak boleh dilalui. Padahal pagi tadi, belum ada palang penutup. Ternyata  ada kegiatan ‘temu pengantin’. Berangkat sekolah tadi, masih diberi ruang untuk lewat. Meski hanya cukup untuk dilalui satu motor. Begitu pula ketika hendak beli ID Card (untuk kartu PAT) ke toko buku, masih bisa lewat situ. Sekarang benar-benar di palang. Patut dimaklumi  karena lagi musim manten. Akhirnya balik kanan, lewat belakang sekolah. Menyusuri jalan tikus, meskipun masih saja terhalang mobil para pengantar pengantin. 

Alhamdulillah, terlepas dari rombongan pengantar pengantin yang memenuhi jalan desa. Mobil diparkir tidak teratur di kanan kiri jalan. Sampai di perempatan Balai Desa Kamulan melaju ke arah barat. Mengantar Ibu guru senior sampai depan rumahnya, di depan Masjid Sunan Kalijaga. Memang saya lagi membonceng Beliau. Melanjutkan perjalanan menuju desa Pakis. Ada tenda pengantin juga! Jalan desa benar-benar tertutup bangunan tenda pengantin. Nanar mencari jalan alternatif, melewati jalan tikus ke arah barat. Prediksi sementara jalan yang akan saya lalui menuju desa Pakis Barat ( Barat SD Pakis). Motor saya rem, berhenti sejenak. Depan saya beberapa meter, nampak jalan kecil dari batu bata licin. Nun jauh terlihat jalan berpaving, karena yakin saya lalui saja.

Jalanan terasa semakin menanjak, merasakan firasat tidak baik. Jalanan yang tadi kelihatan seperti jalan  paving tidak ada (berarti ini fatamorgana). Pembiasan cahaya pada siang hari! Jalanan semakin licin dan menanjak. Deg!! Di tengah-tengah jalan nampak pemakaman. Astaghfirullah! Berarti ini jalan menuju makam desa. Mungkin deretan makam pegunungan Watublandong yang membentang dari  desa Pakis, Kamulan  sampai desa Gador. Motor saya yang ‘bongsor’/besar, sulit saya putar balik, licin dan sempit. Dengan rasa ketakutan yang memuncak, mencoba pelan-pelan memutar motor agar tidak masuk kubangan air. Jalan terlalu curam, licin. Arah kiri kubangan air yang cukup dalam. Entah berapa kali saya baca ayat kursi untuk meredakan rasa takut yang menguasai diri. Meskipun agak kesulitan berhasil turun menuju desa Kamulan lagi. Alhamdulillah, sudah tidak menemukan tenda lagi. Akibat kurang fokus tersesat sampai pemakaman.


Kamis, 31 Maret 2022

CERBUNG PART 2: PUSARA


Hujan rintik-rintik yang turun sejak siang hari, belum juga reda. Sebetulnya mendung tidak terlalu menghitam. Hanya tidak seputih kapas. Aku duduk di kursi belajarku. Mager. Terasa ada sesuatu yang membuatku baper. Karena sampai menjelang sore hari, pertemuan tak terduga dengan Mas Asrom masih membelenggu ingatan. Kok aku jadi salting banget. Semoga aku bukan koordinator ekstrakurikuler qiraah. Berharap sangat! Entahlah, kok aku jadi alay banget seperti para ukhti kala itu. Berpapasan dengannya aja, jadi tremor. Apalagi harus satu frame, satu ruangan. Seketika kucari surat keputusan pembagian tugas mengajar di sekolahku. Kucermati satu persatu, sampai akhirnya manik mataku tertuju pada lampiran kelima. Oh My God! Ternyata aku koordinator ekskul qiraah. Semoga aku besok bisa bersikap wajar. Wajah terpesonaku tidak terbaca warga sekolah.

“Mbak Pipit! Dipanggil Bapak sedari tadi lho!,”seru adikku.

Aku terperanjat. Masak sih kok nggak terdengar, batinku.

“Masak sih, dik!,”sergahku. "Jangan ngaco ya!”

Adikku yang paling ganteng itu tertawa ngakak. Bagaimana tidak terganteng. Kami, tiga bersaudara hanya dia yang cowok.

“Emang kalau orang lagi ngelamun, dipanggil juga tak mendengar. Gagal fokus,”godanya.

“Iya Bapak,” sahutku dengan tersipu malu.

“Pit, kita jadi ke makam?”tanya Bapak.

“Nunggu hujan reda, Pak!,” jawabku sekenanya.

Terdengar adikku tertawa lagi.

“Mbak, fokus,”katanya.

“Hujan sudah reda, Pit!,”kata Bapak sambil mendekatiku.

Astaghfirullah! Aku benar-benar butuh aqua, umpatku dalam hati.

“Iya, Pak! Aku pakai jilbab dulu,” jawabku. Bapak sudah menutup beberapa pintu rumah. Siap menuju makam.

Ketika aku keluar mendorong motor matic, Bapak sudah di bonceng adikku. Si bungsu  tersenyum lebar penuh selidik seperti menguliti wajahku.

“Pit, kamu jalan duluan,”kata Bapak.

Aku melajukan kendaraan menuju pemakaman umum milik warga desa Sukorame. Berziarah seperti ini kami lakukan setiap sebulan sekali. Airmataku menetes tak terbendung. Makam ini terlihat rata dengan tanah. Gundukan tanah ambles akibat hujan turun setiap hari. Ibu…sudah satu tahun beliau istirahat di sini. Ibu…Pipit kangen. Adikku mengambil cangkul menutup lagi dengan tanah. Aku sesenggukan sambil mencabuti rumput yang mulai tumbuh. Bapak mendekatiku, merengkuh bahuku.

“Pit, kita harus tawakal dan ikhlas,” Bapak menghiburku. Aku menggangguk sambil tersedu-sedu.

Ingatanku kembali melukiskan kejadian satu tahun yang lalu. Pandemi covid-19 pada saat itu sedang pada posisi pucak. Hampir setiap hari ada beberapa warga yang meninggal dunia. Namun ibuku masih dalam kondisi sehat walafiat.

“Pit! Antar ibu ke toko Al Afif  Kedunglurah,” permintaan ibuku.

Ibukulah yang pertama kali memanggil dengan sebutan Pipit. Sebenarnya namaku Mahadewi Fithrotunni’mah. Di kampus UIN SATU, para bestie memanggilku Nikmah. Di sekolah aku dipanggil Dewi. 

“Beli apa Bu?

“Beli mukena. Sekalian membeli baju hari raya untuk kamu dan Ibrahim,” jawab ibuku.

“Pit, nanti semua tak belikan baju putih. Hari raya sebaiknya pakai baju putih. Jangan pake baju warna-warni”

Meskipun hujan turun ibu tetap mengajakku berangkat. Padahal biasanya beliau melarang berbelanja di waktu hujan deras begini.

Kejadian itu seperti sebuah firasat, kalau ibu akan meninggalkanku. Keesokkan harinya ibu mengajak kami nyekar ke makam nenek dan kakekku. Lama ibu berdoa di makam itu. Beberapa hari berikutnya ibu aktif ikut acara mengaji online one day one juz. Ibu nampak senang mengikuti kegiatan itu. Namun keesokan harinya ibuku sakit. Tepatnya hari Rabu beliau mulai sakit. Kami sekeluarga mengajak ibu berobat, tapi beliau menolaknya. Aku dan adik menghiba agar ibu mau berobat, akhirnya ibu luluh. Di puskesmas Sukarame ibu dinyatakan menderita maag. Kakak pulang dari dinas di kota Nganjuk. Ia tidak yakin kalau maag. Karena badan ibu panas dingin. Dua hari tidak ada perubahan, akhirnya dibawa ke puskemas Bendorejo. Dokter di puskesmas Bendorejo menghendaki ibu diopname, namun ibu menolak. Takut dinyatakan covid dan diisolasi di RSUD dr Sudomo.

Bersambung


CERBUNG PART 1:Sosok Guru Pembimbing Qiraah

 


Ruang guru sepi. Hanya aku yang tidak ada kelas, menikmati jam kosong. Aku asyik menombol keyboard laptopku. Melakukan analisis hasil penilaian harian siswa kelas 6. Ketika tengah asyik menginput nilai, terdengar ada tamu yang mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam,” jawabku. Seketika mataku terbelalak kaget karena tamu itu adalah Mas Asrom. Teman satu jurusan ketika kuliah di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Kami mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam. Meskipun beda kelas, ia di kelas C sedang aku di kelas A. Dengan isyarat, aku mengajaknya duduk di ruang tamu sekolah.

“Mas Asrom, ya?,”tanyaku. Aduh mulutku! Keceplosan, seharusnya aku tidak bilang seperti itu. Pura-pura tidak kenal akan lebih sopan.

“Iya…betul,” jawabnya sambil mengernyitkan alis. “Mohon maaf, kayaknya sebelumnya kita pernah bertemu ya, Ustadzah.”

“Betul, kita satu jurusan di UIN SATU, Mas!”

“Oh! Makanya nampak tidak asing gitu, hhh,” candanya mencairkan suasana.

Aku tersenyum ramah, menanggapi candaannya. Jemariku sibuk mengirim pesan pada Bapak Kepala Madrasah. Beliau sedang membimbing siswa mengaji Alquran dengan metode UMMI di masjid.

[Bapak,  ada tamu]

[Segera saya temui, Bu. Siapa? Bisa ditanyakan keperluannya!]

[Ustadz Asrom, Pak]

[Oh, Beliau calon pembimbing ekskul tilawah, Bu]

Dari kejauhan kepala madrasah tersenyum, siap bertemu tamunya.

“Assalamualaikum, Ustadz Asrom,” sapa kepala madrasah

“Waalaikum salam” jawab Mas Asrom tersenyum ramah.

Senyum yang ganteng. Seganteng orangnya. Senyum yang bikin para ukthi di jurusan Pendidikan Agama Islam kesulitan tidur. Sosoknya yang shalih dan berwibawa. Ia juga aktif diberbagai kegiatan kampus. Para ukhti yang aktif di kegiatan paduan suara kampus, tahfidz dan sholawatan pasti sulit melupakannya. Suaranya yang merdu bak buluh perindu.

“Assalamualaikum! Bu Dewi, waktunya pelajaran Alquran di kelas 5!,” kata Syafa. Mengejutkanku yang lagi menggantang asap.

“Waalaikumsalam! Apakah pelajaran Bahasa Arab sudah selesai, Mas Syafa?” tanyaku.

“Sudah, Bu Dewi”

Syafa, ketua kelas 5 segera berlari naik tangga menuju kelasnya. Aku bergegas menuju kelas 5. Ternyata Bu Nur Hasanah, guru Bahasa Arab tidak turun ke ruang guru. Ia langsung mengajar di kelas 4 menggantikan wali kelas yang sedang izin kuliah daring. Bu Mutiara, Wali kelas 4 mengikuti PPG dalam jabatan tahun 2022 pada LPTK UIN Mualana Malik Ibrahim Malang.

Kala kaki hendak masuk ruang kelas 5, sekelebat bayangan Mas Asrom menguasai hatiku. Wajahnya yang sempurna memenuhi kepalaku. Astaghfirullah! Segera kutepis ingatan itu. Aku sebagai guru baru harus professional. Membuang masalah pribadi ketika sudah berhadapan dengan anak-anak.

Bersambung