Kamis, 05 Februari 2026

KOKURIKULER DI RAUDHATUL ATHFAL

 



Para pendidik fase fondasi mulai berdiskusi terkait kegiatan kokurikuler di RA. Bagi mereka kegiatan kokurikuler ini masih perlu pemahaman lebih lanjut. Dengan memahami panduan dan berdiskusi pada kegiatan kelompok kerja guru RA (KKG-RA). Sejatinya kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter.

Kokurikuler  bertujuan untuk memperkuat upaya pencapaian kompetensi profil lulusan yang  mengacu pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) untuk tingkat fase pondasi. Kompetensi yang dimaksud adalah delapan dimensi profil lulusan,yaitu: 1)keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; 2)kewargaan; 3)penalaran kritis; 4)kreativitas; 5)kolaborasi;  6)kemandirian; 7)Kesehatan;  8)Komunikasi. Delapan profil lulusan ini oleh teman-teman disingkat menjadi MAKAN GRATIS KREASI MANTANKU. MAKAN (Keimanan dan ketaqwaan), GRATIS (Kewargaan dan Bernalar Kritis), KREASI (Kreativitas dan Penalaran kritis), MANTANKU (Kemandirian, Kesehatan dan Komunikasi).

Karakateristik dari kokurikuler ini bahwasannya kegiatan kokurikuler fleksibel dan kontekstual, serta dapat dilakukan  dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan kekhasan madrasah. Kegiatan kokurikuler tidak dirancang secara acak atau hanya sebagai tambahan kegiatan. Kegiatan harus dimulai dengan menentukan dimensi profil lulusan dan topik panca cinta yang ingin diperkuat atau diperdalam. Setelah memahami karakteristik kokurikuler, madrasah dapat membuat kegiatan kokurikuler yang relevan dan efektif.

Dalam merancang kegiatan kokurikuler sebaiknya kegiatan tersebut mampu mendorong murid bebas bereksplorasi melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan bermakna. Kokurikuler  berisi  kegiatan  eksperiensial, langsung, berorientasi  pada  tindakan dan berdasarkan  keterampilan. Kegiatan kokurikuler disajikan dalam bentuk: 1) pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, 2) Gerakan 7 (tujuh) kebiasaan anak  Indonesia hebat, 3) dan/atau cara lainnya untuk memahami, mengaplikasi, dan  merefleksi materi terhadap isu atau permasalahan nyata yang relevan bagi murid. Tema dalam pelaksanaan kegiatan kokurikuler berfungsi menyatukan berbagai gagasan yang mengaitkan kegiatan pembelajaran sesuai dengan konteks sosial budaya dan karakteristik murid.

Tujuan dari kegiatan kokurikuler adalah mendukung tercapainya delapan dimensi profil  lulusan secara nyata dan kontekstual melalui pengalaman belajar yang bermakna. Delapan dimensi profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan,dan   karakter. Delapan dimensi profil lulusan menumbuhkembangkan murid RA yang kelak menjadi pemimpin yang memiliki kepemimpinan efektif yang berintegritas, profesional, dan transformatif.

Kegiatan kokurikuler yang kita susun harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) memiliki tujuan untuk memperkuat satu atau lebih dari delapan dimensi profil lulusan, 2) mengembangkan  tema  sebagai  muatan  pembelajaran  yang  relevan  dengan   konteks sosial budaya dan karakteristik murid, 3)mengelola  alokasi waktu secara fleksibel  mengacu  pada  struktur  kurikulum yang berlaku, 4)mengembangkan rangkaian kegiatan secara terencana (memuat tujuan langkah langkah pelaksanaan,dan asesmen).

Langkah secara umum di RA dalam menyusun kegiatan kokurikuler adalah: 1) menentukan dimensi profil lulusan yang akan dipilih dalam kegiatan kokurikuler, 2) menentukan tema dalam kegiatan kokurikuler. Keberadaan tema berfungsi mengaitkan kegiatan kokurikuler sesuai dengan konteks social budaya dan karakteristik  murid. RA didorong  untuk  membuat tema-tema  lain  yang  kontekstual dengan  kondisi dan  kebutuhan  masing-masing. Penentuan tema dalam  kegiatan  kokurikuler wajib memperhatikan dimensi  profil  lulusan yang  ingin  dicapai, sekaligus  menentukan  pembiasaan yang  akan dilakukan.

Bentuk kegiatan kokurikuler diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama yang dapat dipilih dan  dikembangkan oleh Raudhatul Athfal sesuai  dengan  karakteristik  murid  dan  konteks  satuan  pendidikan. Kokurikuler pada satuan RA dapat diintegrasikan dengan kegiatan intrakurikuler atau diberikan tema dan alokasi waktu tersendiri. Integrasi dapat dilakukan selama tujuan dan hasil pembelajaran untuk memperkuat delapan dimensi  profil lulusan.

Tujuan pembelajaran kokurikuler di RA adalah  pernyataan  yang  menggambarkan  arah, capaian, dan  hasil  yang  diharapkan  dari  suatu   proses  belajar yang dijalani  murid. Tujuan  pembelajaran dalam  konteks  kokurikuler merupakan gambaran  hasil yang diharapkan  setelah  melaksanakan  kokurikuler. Alokasi waktu kegiatan kokurikuler di RA ditetapkan oleh kepala RA, Koordinator dan Fasilitator kokurikuler. Jangan lupa ditambahkan dengan menentukan topik panca cinta dan materi integrasi Kurikulum Berbasis Cinta.

Selamat mencoba menyusun kegiatan kokurikuler!

 

Rabu, 06 Agustus 2025

Bersekolah Tanpa Terjadi Proses Pembelajaran

 



Schooling without learning
, bersekolah tanpa terjadi proses pembelajaran. Wacana tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan pendidik. Para pendidik yang memiliki pola pikir bertumbuh mulai introspeksi terkait tugas mengajarnya. Mencermati muridnya pergi ke sekolah rutin. Menghabiskan waktu berjam-jam di kelas, namun tidak menunjukkan hasil pembelajaran yang bermakna, kontekstual dan menggembirakan. Begitu pula di fase fondasi anak-anak usia dini tidak dibimbing bereksplorasi dan belajar dengan pengalaman langsung yang menyenangkan dan bermakna.

Orang tua guru masih berfikir bahwa belajar di fase fondasi harus duduk, menulis, mengerjakan LKS dan buku tema. Murid dianggap pintar jika sudah bisa meniru tulisan guru di papan tulis, mewarnai dengan rapi dan mengerjakan LKS. Padahal itu bukan ukuran utama meningkatnya perkembangan anak usia dini. Sungguh pola pikir tradisional (tanggapan para pakar pendidikan Paud).

Jika kita memahami kurikulum Paud, fokus utama stimulasi perkembangan, bukan hasil akademik. Kegiatan belajar seharusnya berbasis bermain, kegiatan eksploratif dan menggembirakan. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang kurikulum paud, maka LKS dianggap solusi paling praktis dan mudah dalam meyelenggarakan pembelajaran.

Para asesor mengkritisi prilaku ormit yang menjadikan LKS di fase Fondasi sebagai sumber tambahan dana bagi lembaga dan ormit. Juga menjadi sarana bagi pengurus pusat untuk bisa keliling nusantara bahkan luar negeri dengan bekerja sama antara pengurus ormit dan penerbit. Fakta di lapangan ada lembaga yang mencetak atau menjual LKS sendiri. Ada penerbit yang bekerja sama dengan guru, lembaga dan ormit. Akhirnya menimbulkan konflik kepentingan antara idealisme pendidikan dan kebutuhan finansial.

Para pemerhati pendidikan menemukan fakta bahwa para pendidik merasa LKS ini selain menguntungkan secara finansial juga memberi kemudahan bagi guru. Apalagi jika jumlah muridnya banyak atau guru kekurangan waktu untuk merancang ragam main sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sedangkan pendekatan ragam main memerlukan persiapan dan kreativitas yang tinggi. Solusi termudah mengajar menggunakan LKS.

Makanya perlu solusi dan upaya dari pendidik untuk berubah. Kepala sekolah perlu meningkatkan pemahaman guru dan orang tua tentang hakikat belajar anak usia dini. Pelatihan guru untuk merancang kegiatan kreatif tanpa LKS. Adanya kegiatan diskusi dengan orang tua tentang perkembangan anak yang lebih holistik. Mengganti LKS dengan portofolio belajar, dokumentasi foto, dan karya nyata anak.

Selasa, 05 Agustus 2025

E-learning Peningkatan Pemahaman Gratifikasi 2025

 


Alhamdulillah, lulusan dalam mengikuti program e-learning peningkatan pemahaman gratifikasi tahun 2025. Sering kita bertanya makna dari gratifikasi itu apa? Sejatinya gratifikasi itu biasanya berupa uang terimakasih, uang pelicin, uang rokok atau uang lelah. Gratifikasi ini sering terjadi karena masih adanya orang yang ingin diistimewakan, meminta perlakuan khusus dan tidak mengindahkan aturan hukum atau adanya permintaan gratifikasi dari pegawai negeri atau penyelenggara negara itu sendiri. Banyak kan praktik-praktik seperti ini? Ada juga gratifikasi illegal. Gratifikasi yang diterima oleh pegawai negeri/ penyelenggara negara yang berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan kewajiban atau tugas pegawai tersebut. Samakah gratifikasi dengan suap?

Suap sejatinya pemberian baik berupa hadiah atau janji yang akan menarik kehendak pegawai negeri atau penyelenggara negara untuk berbuat atau tidak berbuat sesuai kehendak pemberi suap. Pemberian tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhunungan dengan jabatan pegawai negeri atau penyelenggara negara. Pihak pemberi dan penerima suap dapat diproses hukum sebagai pelaku tindak pidana korupsi. Pernahkah kamu mengalami tindakan pemerasan? Atau justru pelaku pemerasan?

Pemerasan yang dimaksud disini adalah tindakan pegawai negeri atau penyelenggara negara secara aktif menawarkan jasa atau minta imbalan. Imbalan dimaksud adalah untuk mempercepat tercapainya tujuan, walaupun melanggar prosedur. Misalnya pejabat memaksa pengusaha untuk memberikan sejumlah uang agar izin usahanya disetujui. Ciri yang menonjol dari pemerasan adalah adanya permintaan sepihak dari penerima.

Sering kita menerima hadiah. Hadiah ini pemberian secara wajar. Tidak terikat sama sekali dengan jabatan. Hadiah dari suami/istri atau teman. Kalau gratifikasi pemberian dalam arti luas dan penerimanya pegawai negeri atau penyelenggara negara. Sedangkan gratifikasi illegal itu penerimanya pegawai negeri atau penyelenggara negara. Berhubungan dengan jabatan. Berlawanan dengan tugas dan kewajiban. Dapat mengarah ke bentuk korupsi tanam budi.

Kejadian ini sering terjadi di sekitar kita, meskipun digalakkan ZI.

Minggu, 03 Agustus 2025

Akreditas RA Tahun 2025

Bulan Agustus 2025 mulai dilaksanakan Akreditasi Raudhatul Athfal, terutama RA yang belum pernah diakreditasi. Kelompok kerja pengawas provinsi Jawa Timur mulai mengingatkan kepada binaannya untuk menyiapkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermutu. Guru diharapkan mulai memahami perkembangan kurikulum dengan adanya insersi 8-3-3-4-5. 8 merupakan dimensi profil lulusan yang terdiri dari keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan dan komunikasi. Delapan profil harus diterapkan oleh guru RA mulai pagi melaksanakan penyambutan sampai dengan siang dijemput oleh orang tuanya.

Angka tiga menunjukkan prinsip pembelajaran mendalam seperti berkesadaran, bermakna dan menggembirakan. Ketika melaksanakan proses belajar mengajar guru RA diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik sehingga memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta memahami tujuan pembelajaran termotivasi secara instrinsik untuk belajar serta aktif mengembangkan strategi belajar menyenangkan menggunakan ragam main. Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik dibimbing agar dapat merasakan manfaat dan relevansi dari hal-hal yang dipelajari untuk kehidupan (kontekstual). Juga dibimbing mampu mengkontruksikan pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan lama dan menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Sedangkan pembelajaran yang menggembirakan ini akan terwujud jika guru RA mampu menciptakan suasana belajar yang positif, menyenangkan, menantang dan memotivasi. Suasana belajar yang menantang terjadi jika guru menyiapkan ragam main. Peserta didik merasa dihargai atas keterlibatan dan kontribusinya pada proses pembelajaran. Sehingga peserta didik terhubung secara emosional untuk lebih memahami, mengingat dan menerapkan pengetahuan.

Angka tiga berikutnya ketika asesor melakukan visitasi guru mampu menerapkan pengalaman belajar seperti memahami, mengaplikasikan dan merefleksi. Sedangkan angka 4 merupakan kerangka pembelajaran sebagai panduan sistematis dalam menyusun desain pembelajaran. Empat kerangka pembelajaran tersebut antara lain: praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pemanfaatan digital. Dalam melakukan pembimbingan terhadap peserta didik guru RA menerapkan kurikulum berbasis cinta dengan tema Panca Cinta (Cinta Allah dan Rosul, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta diri dan sesama dan  cinta Negara).

Guru RA ketika akreditasi diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang bermutu. Tentunya harus diawali dengan memahami 3 poin penting pada standar proses yakni menyiapkan perencanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran  dan penilaian proses pembelajaran. Untuk menciptakan pembelajaran yang bermutu guru RA harus memahami jenis-jenis gaya belajar anak seperti auditori, visual dan kinestetik. Pentingnya memahami gaya belajar anak karena gaya belajar ini merupakan kombinasi dari upaya peserta didik menyerap pengetahuan dan bagaimana informasi atau pengetahuan yang diperoleh diatur dan diproses. Karena beragamnya gaya belajar anak maka guru perlu menerapkan minimal 3 ragam main dari 5 jenis ragam main. Yakni sensorimotor, pembangunan, bermain peran, berbasis lingkungan dan pra membaca.

Jangan mengajar di RA dengan buku tema atau LKS ya ketika ada visitasi dari asesor?! Jika tetap dilakukan maka akreditasi di RA bisa TT atau nilainya C. Syukur jika memang dibiasakan tanpa buku atau LKS. Pembelajaran yang bermutu dan menyenangkan mengunakan ragam main. Pra membaca bisa menggunakan kartu huruf, kartu kata atau menyusun huruf dan kata dari loose part. Begitulah pesan dari para pengurus koordinator pengawas RA Jawa Timur.


Sabtu, 02 Agustus 2025

Peran Bunda dalam Mendidik Anak di Era Digital

 


Perkembangan teknologi melaju pesat, menimbulkan tantangan yang hebat bagi para bunda yang merupakan sekolah pertama bagi buah hatinya. Anak-anak tumbuh dan berkembang di area yang penuh dengan kemudahan untuk mengakses game, media sosial dan informasi yang dikehendaki. Maka peran bunda sangat urgen untuk mendampingi anak-anak  dengan pendekatan yang bijak, keteladanan dan penuh kasih sayang.

Tantangan yang nyata adalah adanya akses tanpa batas untuk mengunduh informasi. Baik informasi negatif maupun positif dengan mudah diperoleh anak-anak. Banyak anak yang kecanduan gadget. Mereka mengalami ketergantungan yang tinggi terhadap aplikasi whatsApp, facebook, instragam, tiktok, yuotube maupun game online. Paparan konten negatif mengandung unsur kekerasan, ujaran kebencian dan pornografi sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Anak-anak lebih nyaman dengan dunia maya dan sangat minim dalam melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar.

Sebagai sekolah pertama, para bunda seyogyanya sebagai role model bagi buah hatinya. Membatasi menggunakan gadget ketika bersama anak kecuali untuk urusan penting. Bunda sebaiknya menjadi pendamping buah hatinya ketika meraka berselancar di dunia maya. Etika menggunakan sosial media perlu ditanamkan sebagai wujud pendidikan karakter sejak dini. Memilih bahasa yang santun ketika berbalas pesan di aplikasi hijau. Memosting video, gambar  dan ujaran yang edukatif dan memotivasi orang lain.

Jadi mendidik buah hati terkait penggunaan gadget tidak sekedar melarang, merebut dan mengontrol mereka. Namun lebih mengena jika memberikan keteladanan dan pemberian pengertian terhadap penggunaan gadget. Dengan keteladanan Bundanya, buah hati kita akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas digital, santun menggunakan sosmed dan tetap terhubung dengan nilai-nilai kehidupan yang edukatif.  Kesalehan kita akan berpengaruh terhadap ana-kanak kita. (Motivasi diri.02/08/2025)

Kamis, 24 Juli 2025

Implementasi Madrasah Ramah Anak

 


Di madrasah siswa dilatih memiliki empati, mengelola perasaan, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Siswa belajar mengenal emosi mereka. Memahami perasaan teman, Melakukan aksi nyata seperti berbagi, meminta maaf, dan membantu. Para pendidik menanamkan nilai kemanusiaan dan kebhinekaan sejak dini. Anak-anak dilatih untuk menerima perbedaan (agama, suku, gender, latar belakang) dan menghargai sesama. Hal ini penting agar madrasah menjadi tempat yang inklusif, tidak ada diskriminasi atau perundungan. Pendidik mendampingi siswa untuk tidak hanya tahu, tapi juga melakukan aksi positif.

Tugas kita tidak hanya berhenti di pengetahuan menyampaikan aturan saja, tapi mendorong siswa untuk bertindak. Melapor jika ada kekerasan, membela teman yang disakiti, mengajak teman bermain dan menyebarkan pesan damai. Beberapa langkah membimbing anak memiliki karakter hebat: 1)Mengenali Diri Sendiri : semua manusia memiliki kesamaan hakiki sebagai ciptaan Allah SWT, karena itu semua manusia berharga; 2)Mengenali Teman dan Lingkungan Sekitar: semua manusia diciptakan Allah SWT dalam keadaan berbeda-beda, maka perbedaan adalah sesuatu yang wajar dan perlu dihargai.

Ketika melakukan pendampingan terhadap anak agar mengenali dirinya sebagai ciptaan Allah SWT. Mereka didampingi melakukam afirmasi positif adalah pernyataan sederhana, singkat, dan membangun yang diulang atau diucapkan untuk menguatkan pikiran, perasaan, dan perilaku positif seseorang. Afirmasi ini digunakan untuk: meningkatkan rasa percaya diri. menenangkan emosi, mendorong perilaku baik, menumbuhkan semangat dan harapan. Peserta didik kita bimbing untuk mensyukuri keunikan dan keistimewaan dirinya serta menyemangati diri sendiri setiap hari. Peserta didik kita latih mengenal perasaan berdasarkan situasi yang dihadapi dalam kehidupannya, baik perasaan yang nyaman atau tidak nyaman. Berlatih mengenal perasaan, baik yang nyaman atau tidak nyaman dapat membantu peserta didik mengendalikan diri serta menghargai perasaan dirinya dan orang lain.

Siswa kita ajak mengenali bagian-bagian tubuhnya (kepala, tangan, kaki, dll) secara tepat. Siswa menyadari bahwa tubuhnya adalah anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri dan dijaga. Siswa kita bombing memahami fungsi utama bagian tubuhnya, serta pentingnya merawat dan menggunakannya dengan baik. Mmenggambarkan atau menunjuk bagian tubuhnya secara mandiri dan percaya diri. Menunjukkan sikap menghargai keberadaan dirinya dan orang lain meskipun ada perbedaan fisik. Kita damping mereka untuk membangun rasa percaya diri dan citra positif terhadap tubuhnya sendiri. Kita bimbing mereka untuk mengetahui bagian yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain. Hanya ibu dan dokter tertentu yang boleh menyentuhnya. Dokterpun Ketika memeriksa harus dengan pendampingan orang tua. Berani mengatakan tidak, jika ada yang berani menyentuh bagian tubuhnya yang paling pribadi. Peserta didik dibimbing mengetahui fase pertumbuhan manusia dan perubahan yang dialami oleh laki-laki maupun perempuan pada fase kehidupannya saat ini. Peserta didik juga dimohon dapat menyilang bagian tubuh yang mereka tidak suka jika orang lain menyentuhnya tanpa izin.

Yang tak kalah penting anak dilatih untuk mengenal temannya dan lingkungan sebagai ciptaan Allah SWT. Mengenal teman dan lingkungan sekitar adalah bagian penting dari pembelajaran sosial-emosional karena membantu anak: 1)Mengembangkan empati: dengan memahami latar belakang dan perasaan teman, anak belajar menghargai perbedaan dan membangun hubungan yang sehat; 2)Meningkatkan keterampilan sosial: Interaksi yang positif dengan lingkungan sekitar melatih komunikasi, kerja sama, dan kemampuan menyelesaikan konflik; 3)Membangun rasa aman dan nyaman: ketika anak merasa dikenal dan diterima, mereka lebih percaya diri dan siap belajar; 4)Menumbuhkan tanggung jawab sosial: Anak belajar bahwa mereka adalah bagian dari komunitas dan memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang positif.

MADRASAH RAMAH ANAK

 



Madrasah ramah anak merupakan impian anak, wali murid dan guru. Lingkungan madrasah yang aman, inklusif, sehat, dan menyenangkan. Menghargai hak dan kebutuhan anak. Sejatinya madrasah yang aman dan menyenangkan dapat terwujud dengan adanya kolaborasi antara madrasah, keluarga, dan masyarakat. karena adanya hubungan yang kuat antara  tindakan perundungan dan prestasi belajar. Semakin tinggi tindakan perundungan yang diterima oleh korban perundungan maka akan mengakibatkan semakin rendah prestasi belajar. Dampak kekerasan pada anak yang signifikan menimbulkan kecemasan, stress, dan rasa aman yang berdampak pada proses dan hasil pembelajaran serta fungsi kognitif siswa.

Anak memiliki 4 hak dasar yakni hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dan hak partisipasi. Namun hak-hak tersebut tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh mereka. Maka perlu Pendidikan karakter untuk mewujudkan terpenuhinya 4 hak dasar tersebut. Pendidikan karakter juga bermanfaat untuk mencegah kekerasan terhadap anak. 19.629 anak korban kekerasan berdasarkan kelompok usia (SIMFONI PPA 2024): 11% anak usia 0-5 tahun, 33% anak usia 6-12% dan 56% anak usia 13-17 Tahun. Berdasarkan Asesmen Nasional Kemendikbudristek 2022: a) 34,51% (1 dari 3) peserta didik berpotensi mengalami kekerasan seksual; b) 26,9% (1 dari 4) peserta didik berpotensi mengalami hukuman fisik; c)36,31% (1 dari 3) peserta didik berpotensi mengalami perundungan.

Pendidikan karakter tidak hanya bermanfaat untuk membentuk karakter individu yang baik. Pendidikan karakter juga mengajarkan nilai-nilai regulasi diri serta penghormataan dan penghargaan merupakan kunci pencegahan kekerasan. Anak-anak mengetahui, makna dari mengetahui adalah memiliki pemahaman tentang apa yang benar dan salah. Pemahaman tersebut kemudian diikuti dengan kemampuan untuk meregulasi diri dalam berperilaku. Mereka juga merasakan, artinya memiliki kemampuan sosio emosional untuk merasakan dan mendorong kepekaan terhadap situasi dan perasaan individu lain.  Anak-anak dibimbing melakukan dengan cara memberikan dorongan moral untuk melakukan sesuatu hal yang benar dan merespon situasi tertentu dengan cara-cara yang mengedepankan prinsip non-kekerasan.