Rabu, 22 Mei 2024

Masa Lalu

 

14 Mei, di malam hari berpapasan dengan Mas Ihsan sepulang dari kios Mbak Nana. Bukan tanggal merah Masnya liburan. Lek Kar menyapa dan meminta mampir. Kami berempat menikmati kudapan gatot yang di taburi kelapa parut. Meski warnanya hitam rasanya nendang, enak. Ternyata Mas Ihsan bukan liburan tapi izin menghadiri panggilan Pengadilan Agama tadi pagi. Mas Ihsan menceritakan kejadian di Pengadilan Agama. Istrinya datang di PA di dampingi saudara dan pengacaranya. Ketika Lek Kar menceritakan sikap istrinya yang berubah-ubah. Di luar ruangan menekuk wajah dan diam saja. Namun setelah berdampingan dengan pengacara terlihat tersenyum bangga. Mas Ihsan meminta ibunya sabar, memang karakter istrinya manipulatif. Jika ada yang mendukungnya ia akan bersikap narsistik.

Keduanya menjawab tidak ingin melanjutkan pernikahan. Istrinya menjawab tidak bahagia. Hakim menjelaskan kebahagiaan bisa dibangun dalam pernikahan. Mas Ihsan menjelaskan alasan tidak melanjutkan pernikahan karena istrinya selingkuh. Juga meminta Majelis hakim mengubah tuntutan penggugat yang menyatakan meninggalkan rumah setelah ijab kabul karena terbukti masih mengadakan perayaan pernikahan 4 hari setelah ijaban. Selain itu masih mengunjunginya pada bulan puasa kemarin. Gugatan tidak memberi nafkah juga tidak betul, karena setelah menikah diberi kartu ATM yang setiap bulan diisi sesuai kemampuan tergugat. Bahkan menjelang pemilu meminta Iphone seri 12. Majelis hakim menyela, mungkin kurang mahal Mas. Mas Ihsan mejawab jika dia tidak mampu lagi menuruti gaya istrinya. Maklum masih magang. Akhirnya majelis hakim mengetuk palu, memerintahkan masuk ruang mediasi.

Pengacara istrinya berbisik pada mejelis hakim. Memohon diperbolehkan masuk ruang mediasi. Mas Ihsan mempersilahkannya. Mas Ihsan cukup lega ketika masuk ruang mediasi, mediatornya nampak  sangat baik, tawadu’ dan bijaksana. Mas Ihsan menjelaskan pada mediator tidak ingin melanjutkan pernikahan keran istrinya selingkuh. Ketika mediator menanyakan buktinya, Mas Ihsan menemukan bukti gambar porno istrinya yang dikirim pada laki-laki lain. Istrinya langsung menyela, itu masa lalu! Memang masa lalu, foto dibuat satu hari sebelum nikah. masa lalu dari sekarang ini. Tapi sudah terikat tunangan. Mediator bertanya pada istrinya, anda guru? Istrinya dengan percaya diri menjawab, ya saya guru MA. Karena hubungan kami seperti keluarga, saya menepuk bahunya dengan berkaca-kaca. Sungguh perempuan yang kurang peka. Maksudnya mediator bertanya pekerjaannya, karena sang Bapak heran ada guru yang membuat foto bugil dan memberikan pada orang lain.

Tidak ada seorang ibu yang memilihkan istri tidak baik pada anak kesayangannya. Bagi seorang ibu bersahaja, seorang guru MA di pondok pesantren cukup meyakinkan bahwa ia berakhlak baik. Sering bercerita mengikuti kajian dan menjadi orang kepercayaan pondoknya dalam kegiatan wisuda dan kegiatan-kegiatan lainnya. Mediatorpun mendoakan Mas Ihsan kelak mendapat istri yang shalihah. Aamiin

Ujian Lelaki Shalih dan Santun


7 Mei di pagi buta Lek Kar sudah mengantar sayur gude. Nampak lezat, santannya kental menempel pada polong gude. Menitip kunci rumah, ternyata Lek Ker hendak mengantar anaknya ke Pengadilan Agama. Perkawinan sudah tidak bisa dilanjutkan. Kemarahan seorang suami yang melihat hp istrinya terdapat gambar tidak senonoh yang dikirimkan pada orang lain. Menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca. Begitu teganya mempermainkan pernikahan. Padahal Lek Kar menganggap menantunya seperti anaknya sendiri. Logikanya jika memenuhi undangan Pengadilan Agama, tentunya masih ingin melanjutkan pernikahan. Jika tidak pastinya tidak didatangi biar cepat selesai.Untuk apa mempertahankan perempuan yang tidak mampu menjaga marwah dirinya.

Pukul 07.37 WIB Lek Jo mengambil kunci. Beliau baru pulang dari sawah, mengikat padi yang leseh dihempas angin. Musim angin, padi yang hendak dipanen leseh sejajar tanah. Ketika basa basi Lek Jo tak sengaja menceritakan (curcol) keinginan Ihsan mendatangi Pengadilan Agama. Bukan ingin mediasi melanjutkan pernikahan. Tapi ingin meluruskan pada Dewan Hakim Pengadilan Agama bahwa gugatannya tidak ada yang benar. Ketika Ihsan izin pulang, teman-teman di kantornya memberi support untuk mendatangi panggilan. Wah, ternyata Mas Ihsan mendapat support system. Semoga dukungan mental dan emosional dari teman-teman menguatkannya. Teman-teman di kantornya sepakat  agar tidak ada lagi laki-laki baik yang menjadi korban perempuan itu. Tidak melaksanakan tugasnya sebagai istri yang baik, justru bergaya hidup layaknya orang kalangan atas. Perempuan yang tidak tahu balas budi, tidak menghargai kebaikan orang lain. 

Sore harinya Lek Kar bertandang ke rumah. Ternyata di PA tidak lama hanya mencocokkan data. Fihak perempuan tidak datang. Mewakilkan pada pengacaranya. Pengacaranya seorang wanita yang telah berumur. Di ruang tunggu PA Si Pengacara menanyakan adakah keinginan putra Lek Kar melanjutkan pernikahan. Pengacara tersebut menanyakan sampai tiga kali dijawab tegas, tidak! Lek Kar bukan orang modern, jadi baginya pergaulan bebas adalah tabu. Pengacara itu apakah tidak punya anak? Gimana jika kelak si pengacara ada di posisinya? Kok mau membela perempuan tidak benar? Begitulah pertanyaan Lek Kar. Bisa jadi pengacara hanya menuliskan laporan sepihak dari penggugat. Bisa pula gugatan dibuat menekan tergugat biar cepat selesai dan menerima uang lelah. Bisa pula istri Ihsan manipulatif mampu berperan sebagai orang tersakiti dihadapan pengacaranya. Itulah prediksiku. Semoga Lek Kar memperoleh keadilan.

Ya Allah semoga Mas Ihsan yang santun, shalih dan baik hati kelak menemukan perempuan yang benar-benar baik dan shalihah. Yah, tidak semua guru bergaya hidup modern dan mengikuti pergaulan bebas. Masih banyak ibu guru yang baik dan shalihah.


Selasa, 21 Mei 2024

Cara Allah Menolong Hambanya

 

30 April Lek Karjo terlihat termangu. Sesekali tersenyum miris, antara marah dan sinis. Mengulurkan amplop coklat. Pukul 16.45 WIB cuaca sejuk, maka kami mendiskusikan isinya di pematang sawah. Para petani mulai naik, menapaki pematang mengucapkan salam perpisahan pada tanaman palawijanya. Maklum sawah ini cukup tinggi tidak bisa ditanami padi. Namun hasilnya melebihi padi. Cabe yang mulai memerah, bawang merah daunnya sudah tak hijau lagi, begitu pula melon dan mentimun. Lek Kar memulai bercerita. Mendengar kisahnya, terasa sesak dada ini. Lek Kar akhirnya menyadari bahwa dirinya memang orang jadul. Berprinsip ilmu agama yang diresapinya terasa masih sedikit tapi dilakoni. Orang yang mengatakan agama yang ditekuni cukup tinggi. Selalu izin ikut kajian di berbagai kabupaten, namun berprilaku tidak senonoh. Prilaku seperti itu menurut Lek Kar tabu, apalagi dilakukan seorang guru. Tanpa menyela, tetap mendengarkan curhatannya. Biar yang menyesakkan hatinya terurai, lebur bersama semilirnya angin sore.

Ketika Lek Pri naik ke pematang mengantar mentimun, kami menyapanya. Diskusi jeda sejenak, fokus membicarakan harga hasil petani yang naik turun seperti iman manusia. Lek Pri undur diri, kamipun mengucapkan terimakasih atas kebaikannya. Beginilah enaknya rumah MeWah (Mepet saWah). Pernah suatu ketika Lek Pri mengerjakan orang memanen bawang merah, kala itu bawang merah lagi meroket harganya. Langkah kaki tak hentikan, balik kanan tidak jadi metik sayur. Jangan sampai ditawari bawang merah. Alhamdulillah sorenya, sudah ada beberapa gantang bawang merah. Semoga Allah melapang rezekinya.

Lek Kar mencoba menegakkan dadanya, hembusan nafas berat, rapuh! Beberapa kali terdengar bibirnya beristighfar dan membaca kalimat thayyibah hauqalah. Mencoba menenangkannya dengan bertutur sederhana. Tidak semua guru berani memotret dirinya dalam kondisi vulgar dan mengirimkan pada orang lain. Ribuan guru-guru perempuan mampu menjaga marwah dirinya. Menjaga nama baik profesi dan instansinya. Banyak guru yang taat pada suami dan mertuanya, meskipun mengajar di sebuah madrasah yang sederhana.

Bila adanya guru yang mengajar di sebuah instansi yang menurut kami istimewa dan melakukan hal yang tidak baik. Dia hanya segelintir sosok yang belum mampu menahan hawa nafsunya. Tergiur bujuk rayu syetan dan kenikmatan sesaat, melupakan kehormatan dirinya sebagai calon madrasah pertama bagi putra putrinya kelak. Dengan memeluk erat tubuhnya yang terisak-isak. Tutur sederhana yang bisa dibisikkan, mungkin ini cara Allah menyayangi keluarga Lek Kar. Andai lanjut bermaksiat, menginap di tempat lain, melarikan diri dari rumah, pulang lagi, dan terus menerus dilakukan. Kasihan suami yang telah bersusah payah mencari nafkah justru istrinya demikian. Belum lagi penyakit yang akan tertular bila seperti itu.

Sesungguhnya Allah sedang menolong hambanya yang tulus dan taat pada-Nya. Meskipun dengan cara yang menyesakkan dada. Namun bila kita tetap berada di jalan yang lurus dan tidak membalas perbuatannya. Isnya Allah akan diganti yang lebih baik dan shalihah berbakti pada suami dan mertua. Aamiin.

Minggu, 19 Mei 2024

Istri yang Memiliki Sikap Tawadhu’

 



Perempuan  karir yang memiliki sikap tawadhu’ terhadap suami merupakan perempuan luar biasa. Tidak menganggap suami lebih rendah darinya baik dari segi pendapatan maupun pengetahuan. Mampu menghargai suami dan buah hatinya. Memiliki kemampuan  menjaga komunikasi yang baik dengan anggota keluarga. Mendiskusikan pembagian tugas dan kewajiban dengan proporsi yang bijak. Memiliki cinta kasih yang tak luntur untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga. Mampu menyelesaikan rintangan dengan santai dan tawakal pada Allah. Tangguh menerima ujian hidup yang tak sesuai ekspektasi. Segala cobaan, anugerah maupun karunia kita hadapi dengan tawakal, ikhlas dan penuh rasa syukur sehingga mendatangkan ketawadhu’an.

Namun terkadang anugerah sebagai sosok multasking, bisa menjalankan berbagai pekerjaan dalam satu waktu. Memiliki gaji dan jabatan yang lebih tinggi dari suami menjadikannya takabur dan semena-mena terhadap suami. Istri menjadi sangat dominan dalam mengambil keputusan. Suami harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Mulai dari ngurus anak, ngepel, masak, cuci baju maupun cuci piring. Semakin eksis di dunia kerja bisa jadi keluarga menjadi korban dan mendatangkan mudharat bagi keluarga.

Jika terjadi demikian, maka niat kita menjadi wanita karir wajib direvisi. Semua anugerah sebagai wanita karir ini wajib disyukuri, dinikmati dan dilakukan dengan tujuan ibadah lillahi ta’aala. Seyogyanya kita meminta dukungan dan doa dari suami dan buah hati. Karena rezeki kita yang lebih tinggi dari suami merupakan nikmat Allah kepada keluarga kita. Tentunya melalui gaji istri yang lebih tinggi. Ini merupakan sedekah bagi istri yang telah menafkahi keluarganya.

Wanita karir merupakan impian banyak perempuan. Ketika ditakdirkan menjadi wanita karir maka marilah kita awali dengan mengucapkan rasa syukur atas segala kekurangan dan kelebihan yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Mengawali tekad kuat menjalani takdir ini dengan ikhlas agar hidup lebih damai meskipun belum sesuai dengan ekspektasi. Mempersiapkan hati untuk menerima ujian dan anugerah  dengan ikhlas dan tawakal. Agar hidup terasa ringan. Semoga Allah menjadikan putra putri kita berbakti pada orang tua dan guru. Taat pada Allah dan menjadi anak yang shalih dan shalihah. Tetap taat dan berbakti pada suami sesuai tuntunan Al-Quran dan Al Hadits. Aamiin.

Selasa, 19 Maret 2024

Menata Hati dan Pikiran di Bulan Ramadhan

 



Ramadhan telah memasuki hari kesembilan, suka cita umat muslim masih terlihat di lingkungan sekitar. Suka cita diberi panjang umur sehingga bisa beribadah di bulan Ramadhan 1445 Hijriah. Karena pada bulan Pebruari tahun 2024 lalu, dalam satu dusun Bendo desa Ngadirejo terdapat 7 orang meninggal dunia. Suasana yang menyedihkan pada detik terakhir menjelang datangnya bulan Ramadhan. Namun, kondisi lingkungan berangsur membaik. Ketika Ramadhan datang dan telah memasuki hari kesembilan. Ceramah bijak dari beberapa ulama telah membangkitkan semangat warga dusun Bendo desa Ngadirejo. Sebagaimana Rosulullah SAW juga telah menjelaskan banyak keistimewaan dan kemuliaan selama bulan Ramadhan dalam sebuah hadits yang diriwatkan Imam Nas’al bahwasannya Nabi Muhammad bersabda yang artinya: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan”.

Alhamdulillah, kami warga Bendo masih bisa beribadah di bulan Ramadhan. Dengan berlipat gandanya pahala ibadah dan perbuatan baik di bulan ini. Semoga kami termasuk orang yang diharamkan Allah dari api neraka karena kebahagiaan ini. Kami manfaatkan bulan mulia dan penuh berkah dengan memperbanyak ibadah maupun sedekah. Memperbaiki diri kami dari hal-hal yang sederhana dengan  berfikir positif, berkata positif dan melakukan semua hal secara positif. Kami menyadari begitu jelas Islam melarang berkata kotor saat sedang puasa. Ketika kami berpuasa tetapi tidak menjaga lisannya maka tidak mendapat pahala dari puasanya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Bukhari yang artinya: ”Orang tidak menjauhi perkataan dusta dan mengamalkan dusta, maka tak ada hajat bagi Allah untuk menilai ibadah puasanya, meskipun ia bersusah payah menjauhi makanan dan minuman”. Hadits tersebut merupakan peringatan agar ibadah kami tidak tertolak maka menjaga lisan kami agar tidak berkata dusta. Jadi jangan merugi sampai puasa kami (warga dusun Bendo) ini menjadi sia-sia.

Kami mulai menata hati dan pikiran jangan sampai timbul pikiran/perasaan negatif menguasai diri. Kami fokus hal-hal baik dalam hidup, merasa bahagia dan membangun citra  dalam diri. Kami berprasangka baik pada semua hal. Berprasangka baik pada Allah maupun manusia. Allah menjadikan sesuatu ada hikmahnya. Kejadian di bulan Pebruari yang lalu pasti ada hikmahnya. Untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah.

Dalam sebuah hadits qudsi dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rosululullah SAW bersabda yang artinya: “Allah berfirman sebagai berikut: ‘Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku. Apabila ia berprasangka baik ia akan mendapat kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkan keburukan’. Oleh karena itu kami, menjaga hati dan pikiran agar  berfikir positif, berharap yang baik, berprasangka baik. Karena demi kebaikan diri sendiri, keluarga maupun orang lain.

Memilih  menggunakan kata positif pada saat berbicara, kata-kata tersebut akan meresap di alam bawah sadar dan menjadi maindset kami dan akhirnya terjadi seperti apa yang kami katakan. Kata-kata positif adalah doa. Maka mulai belajar mengurangi kata-kata yang negatif, menghapus kata negatif  pada diri sendiri. Seperti kata kami bersedih, musibah terjadi tiada henti, kami tidak bisa, kami tidak mampu. Kami ganti dengan kata-kata positif, kata yang membangkitkan semangat.  Kami bisa, kami mampu, kami bisa melampui peristiwa memilukan ini. Kami bisa melakukan yang terbaik. Kata-kata yang membangkitkan kekuatan, memacu semangat harus ditegaskan berulang kali.

Di bulan Ramadhan ini sebaiknya berkata baik kepada orang lain. Menghindari kata yang menyinggung perasaan orang lain. Agar orang lain merasa nyaman. Kata pujian lebih baik dari hujatan. Kalimat yang menunjukkan kerendahan hati lebih baik dari pada menyombong diri. Tidak perlu berkonfrontasi dengan orang lain. Mari tunjukkan perhatian tulus dan empati pada orang lain. Belajar menata hati di bulan penuh berkah dan ampunan. Menggulirkan kata yang membangkitkan kekuatan pada diri sendiri, kami pantas hidup bahagia. Dan kami akan damai dan hidup rukun dengan orang lain. Mendoakan orang lain mendoakan setiap bertemu dengan warga sekitar. Doa yang baik akan kembali kepada kami. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah bersabda: Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudara tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya  ini ada malaikat yang mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi. (HR Muslim)


Senin, 18 Maret 2024

Bersedekah di Bulan Penuh Berkah

 

Ramadhan 1445 Hijriah akan segera meninggalkan kita. Seyogyanya ibadah semakin kita tingkatkan. Baik ibadah sholat, puasa maupun sedekah. Terkait dengan sedekah Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun ayat 10 yang artinya: Dan infakanlah sebagian apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematianku) sedikit waktu lagi maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih". Orang yang telah meninggal duniapun berharap sehari saja dihidupkan di dunia untuk bersedekah. Bulan Ramadhan merupakan bulan terbaik untuk bersedekah. Pentingnya sedekah bukan untuk Allah. Kemanfaatannya kembali kepada diri kita sendiri. Bersedekah di bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan penuh limpahan pahala dan bulan penuh kebaikan. Maka bersedekahlah di bulan terbaik dalam kondisi terbaik (sedang berpuasa) sebagai sarana mendekat kepada Allah SWT.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas yang artinya: “Rosulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam mengajarkan Alquran. Dan kedermawanan Rosulullah SAW melebihi angin kencang yang bertiup.” Kedermawan  nabi ada beberapa manfaat: 1) kemuliaan waktu itu (bulan Ramadhan, 2)dilipatgandakan semua amalan di bulan Ramadhan, 3) membantu orang yang berpuasa, shalat, zikir dalam ketaatan kepada Allah maka jika membantu mereka pahala kita akan dilipatkan gandakan.

Begitu pula jika kita memberi makan orang yang berpuasa maka kita akan mendapat ganjaran pahala yang sama seperti pahala orang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa. Kita akan mendapat transferan amal dari orang yang kita bantu. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rosulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang berpuasa sedikitpun.”

Hal yang perlu kita tekankan adalah Ramadhan segera meninggalkan kita. Jangan  sampai puasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Kita tingkatkan sedekah. Sedekah tidak menunggu kaya, tidak menunggu tua. Mari bersedekah mumpung masih kuat, sehat dan sempat. Bersedekahlah dengan tenaga dan harta kita. Mungkin ini Ramadhan terakhir kita jangan sampai berakhir dengan sia-sia. Semoga kita diberi keistiqomaahan untuk berbuat kebaikan. Aamiin.

 


Senin, 12 Februari 2024

Amplop di Masa Tenang Kampanye 2024

 


Bakda maghrib hendak beli gula. Namun toko kecil dekat rumah sudah tutup. Padahal harga sembako di situ paling murah. Dari pada jauh, harus beli di desa Kedunglurah atau desa Ngadisuko, mencoba nekat beli di toko tersebut. Membunyikan klakson motor. Thit! Kode ada pembeli nekat, dari pada teriak-teriak. Setelah yang punya toko berlari membuka pintu, segera saya mengucapkan salam. Sepasang suami istri, penjual toko itu menghampiri. Kusampaikan permintaan maaf menganggu istirahatnya. Meminta bantuan melayani pembelian gula dan kopi. Alhamdulillah dilayani dengan baik sekali. Sejatinya heran kok keduanya begitu antusias dan tergopoh-gopoh membuka pintu. Tidak seperti biasanya yang datar-datar saja.

Ternyata keduanya mengira saya akan mengantar amplop. Amplop pilpres. Kok bisa? Alasan mereka, sejak pagi rumahku banyak didatangi tamu. Padahal tamu yang datang adalah panitia PPS, reseler kerudung daffi, panitia KPPS ngantar undangan pencoblosan, saudara ngantar berkat selamatan. Saat ini masyarakat sedang berharap ada kader partai yang memberikan amplop di masa tenang. Tersiar berita hoax adanya amplop dengan kisaran Rp15.000 sampai Rp100.000. Supaya tidak menimbulkan prasangka, maka saya katakan sikap netral sebagai abdi negara. Sekaligus guyon maton tentang pandangan mereka setelah melihat debat capres dan cawapres. Sepasang suami istri itu, merasa debat kemarin tidak memuaskan. Begitukah? Namanya opini masyarakat, silahkan mengungkapkan pendapat yang sesuai hati nuraninya. Ternyata debat kemarin belum bisa memotivasi mereka menentukan pilihan. Saya lanjut dengan diskusi dari sisi partai pendukung dari ketiga capres. Juga dari sudut rekam jejak ketiganya. Jawabannya tetap gamang.

Ketika keduanya, menanyakan sikap saya pada pemilu 2024. Jawaban saya tetap seperti semula netral. Tidak mengarahkan warga pada paslon manapun. Nanti yang saya pilih adalah paslon yang kredibel, memiliki kualitas keilmuan yang baik, juga visioner dan bijak. Tidak menghalalkan segala cara, menolak kecurangan, menolak black campaign, dan money polotic. Rosulullohpun mengingatkan umatnya sebagaimana yang riwayatkan oleh Ibnu Majah yang artinya:” Laknatnya Allah itu ditimpakan kepada penyuap dan yang disuap”. Diskusi berlanjutkan dengan program dan janji-janji paslon yang terkadang jarang dilaksanakan. Bahkan setelah menjabat jadi lupa akan janji yang ditebarkan. Maka ingatan harus disegarkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban yang artinya: “Dari Abi Hurairah ra Rosulullah SAW berkata:’Tiga orang yang tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah di hari kiamat ialah orant tua yang berzina, imam yang dusta, dan orang yang miskin lagi sombong.” Semoga nantinya, terpilih pemimpin yang amanah, adil, dan menepati janji-janjinya.

Semoga pada tanggal 14 Pebruari 2024 nanti yang datang ke TPS adalah para pemilih cerdas. Mereka menentukan pilihanya bukan karena uang maupun sembako. Tetapi karena kecerdasan dan keluasan pemahaman terkait pemimpin yang amanah. Selanjutkan seluruh masyarakat mampu menghargai pilihan orang lain. Tidak ada permusuhan akibat beda pilihan, baik antar anggota keluarga, teman sekantor, sesama jamaah masjid maupun warga masyrakat. Selain itu semoga para tokoh masyarakat menjadi pemilih yang adil dan bijak. Tidak mempengaruhi anak buahnya atau mengarahkan bawahan pada paslon tertentu.