Jumat, 25 Februari 2022

Tugas Pokok dan Fungsi Supervisi

 

Kehadiran supervisi digunakan untuk memajukan pembelajaran melalui pertumbuhan kemampuan guru-gurunya. Supervisi mendorong guru menjadi lebih berdaya, dan situasi mengajar belajar menjadi lebih baik, mengajar menjadi efektif, guru menjadi lebih puas dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan demikian sistem pendidikan dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Ini berarti bahwa kedudukan supervisi merupakan komponen yang sangat strategis dalam administrasi pendidikan.

Menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 21 tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, tugas pokok Pengawas Sekolah adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.

Dilihat dari fungsi utama supervisi adalah ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas, agar sasaran supervisi terlaksana dalam peningkatan kinerja secara efektif, maka kemampuan guru perlu ditingkatkan, maka fungsi supervisi menurut Ametembun terdiri dari:(1)Penelitian. Yaitu fungsi yang harus dapat mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi;(2)Penilaian. Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar yang telah dicapai, dan penilaian ini dilakukan dengan berbagai cara seperti tes, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah, serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan;(3)Perbaikan. Fungsi perbaikan adalah sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau  melakukanberbagai perbaikan dalam menjalankan tugas mereka. Perbaikan ini dapat dilakukan dengan bimbingan, yaitu dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru; (4)Pembinaan. Fungsi pembinaan merupakan salah satu usaha untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi, yaitu dengan melakukan pembinaan atau pelatihan kepada guru-guru tentang cara-cara baru dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, pembinaan ini dapat dilakukan dengan cara demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, konferensi individual dan kelompok, serta kunjungan supervisi

 

Senin, 21 Februari 2022

KUNCI UTAMA GURU PROFESIONAL

 


Pada acara Diklat Di Wilayah Kerja (DDWK) guru MI beberapa hari yang lalu, Bapak Kasi Pendma menanyakan pengertian guru profesional. Beragam jawaban yang muncul dari peserta diklat. Menurut pendapat seorang guru, guru dikatakan professional jika dapat diguru dan ditiru. Ada pula yang menjawab, guru dikatakan profesional jika telah menerapkan 4 kompetensi guru. Jawaban lainnya, guru dikatakan profesional jika  mampu merencanakan pembelajaran, melakukan proses pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran dengan baik.

Sedangkan pada  pembinaan guru BA dan MI oleh pengawas madrasah dalam  peningkatan kompetensi profesional guru di MIM Kamulan. Bapak Haji Nur Muslimin  menjelaskan tentang makna guru menurut UU, empat kompetensi guru dan ciri-ciri guru profesional. Penekanan materi pada hari itu adalah kompetensi profesional.

DEFINISI GURU PROFESIONAL

Menurut UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

STANDAR KOMPETENSI GURU

KOMPETENSI PAEDAGOGIK

Menurut pengawas madrasah guru dikatakan memiliki kompetensi paedagogik jika:(1)menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik,  moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual; (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik; (3)mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu, (4) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik; (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran; (6) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki; (7) berkomunikasi secara efektif,empatik, dan santun  dengan peserta didik; (8) menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar; (9) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran; (10)melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran

KOMPETENSI KEPRIBADIAN

 Kriteria guru yang memiliki Kompetensi Kepribadian adalah: (1)bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia; (2) menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak  mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (3) menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa; (4) menunjukkan etos kerja,tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri; (5) menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Guru dianggap mampu bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia jika mampu:(a)menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender; (b) bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut,  hukum dan sosial yang berlaku  dalam masyarakat, dan kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.

Guru mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat jika: (a) berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi; (b) berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia; (c) berperilaku yang dapat diteladan oleh peserta didik dan  anggota masyarakat di sekitarnya.

Pada  poin menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa: (a)guru harus  menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil; (b) guru mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.

Guru dinyatakan mampu menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri  jika : (a)guru harus menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi; (b) bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri; (c) mampu bekerja mandiri secara profesional.

Guru dianggap mampu menjunjung tinggi kode etik profesi guru jika: (a) memahami kode etik profesi guru; (b) menerapkan kode etik profesi guru; berperilaku sesuai dengan kode etikprofesi guru.

KOMPETENSI SOSIAL

Guru dianggap memiliki kompetensi sosial jika: (1)bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang  keluarga, dan status sosial ekonomi; (2)Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama  pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat; (3)beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial; berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain  secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

Pada kompetensi sosial  ini guru dinyatakan mampu bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi, jika: (a)bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran; (b)tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah  karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang  keluarga, dan status sosial-ekonomi.

Kriteria guru mampu berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat bila; (a)Berkomunikasi dengan teman sejawat dan  komunitas ilmiah lainnya  secara santun, empatik dan efektif; (b)berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik, dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik; (c)engikutsertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

Ciri guru yang mampu beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial adalah: (a)beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik; (b)melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja untuk  mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.

Guru  yang mampu berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain jika dapat (a) berkomunikasi dengan teman sejawat, profesi ilmiah, dan komunitasi ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran; (b)engkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan maupun bentuk lain.

Kompetensi Profesional

Titik berat pembinaan guru Bustanul Athfal Aisyiyah dan MIM Kamulan pada tanggal 16 Pebruari tahun 2022 adalah: (1)menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu; (2)menguasai Kompetensi Inti dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu;(3) mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif; (4)mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif; (5)memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

Pada kompetensi menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, guru harus : (a) menguasai Kompetensi Inti dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu; (b)memahami kompetensi inti mata pelajaran yang diampu;(c)memahami kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu; (d)memahami tujuan pembelajaran yang diampu.

Ciri guru yang mampu mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif, sebagai berikut: (a)memilih materi pembelajaran yang diampu sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik; (b)mengolah materi pelajaran yang diampu secara kreatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

Guru dikatakan telah dapat mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, jika: (a)melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri  secara terus menerus; (b)memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka peningkatan keprofesionalan; (c)melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan; (d)mengikuti kemajuan zaman dengan belajar dari berbagai sumber.

Guru dianggap telah mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri, bila telah: (a)memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam berkomunikasi; (b)manfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri.

Hal-hal yang harus dilakukan untuk menjadi Guru Profesional : (1)Memahami tugas dan fungsi seorang guru; (2) Selalu berusaha meningkatkan ilmu yang dimiliki, baik ilmu yang terkait dengan materi pelajaran maupun ilmu tentang bagaimana menjadi guru yang baik, dengan banyak   membaca, mengikuti pelatihan, diskusi dengan teman  sejawat; (3) Mau melakukan refleksi supaya dapat menyadari kekurangan yang dimiliki, kemudian berusaha untuk  memperbaikinya; (4) Meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap hal-hal baru atau perubahan-perubahan yang  terjadi di sekitar supaya tidak mempengaruhi kualitas pembelajaran; (5)Mau menggandeng teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

KUNCI UTAMA GURU PROFESIONAL

Seorang guru menjadi Profesional jika telah memiliki: (1)kemauan keras; (2)komitmen terhadap tugasnya; (3)ketulusan dalam menjalankan tugas mulia sebagai guru

AGAR MADRASAH  TETAP JAYA

Menurut pengawas madrasah kecamatan Durenan, madrasah tetap jaya jika: (1)ada siswa; (2) melakukan inovasi dalam pelayanan membuat program unggulan, disiplin, kehadiran tepat waktu;(3)enguasai tehnik rekrutmen siswa; (4)ada kebersamaan.Keberhasilan madrasah adalah keberhasilan bersama; (5)Jalin komunikasi yang baik dengan pihak lain

 

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Februari 2022

BUILDING LEARNING COMMITMENT (BLC)

 

Peserta yang terlambat mendapat tugas melepaskan ikatan

  Bapak Muhammad Shodiq (Widyaiswara dari Balai Diklat Surabaya) ternyata  memiliki kemampuan hipnoterapi. Ketika menjadi pemateri terasa sekali kemampaun memahami karakter peserta diklat. Materi pertama Beliau tentang BUILDING LEARNING COMMITMENT (BLC). Beliau menyampaikan kiat belajar menjadi pribadi yang lebih sukses dan memnjadi pemimpin yang lebih amanah. Caranya dengan menyesuaikan diri dengan kebenaran dan kebaikan. Guru juga harus konsisten melaksanakan kebenaran dan kebaikan. Serta berani memperjuangkan kebenaran dan kebaikan. Terkait kebenaran dan kebaikan ia tekankan berulang-ulang.

KETELADANAN

Teori Kepemimpinan  meletakkan keteladan pada peringkat pertama di antara sejumlah karakteristik yang harus dimiliki seorang pemimpin. Selanjutnya pemimpin harus memiliki integritas dan mau mengembangkan diri. Pengembangan diri merupakan proses pembentukan dan perwujudan menjadi lebih baik. Meliputi segala kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas diri, mengembangkan bakat dan potensi diri, membangun sumber daya manusia dan fasilitas kinerja, meningkatkan kualitas hidup dan memberikan kontribusi dalam mewujudkan impian dan cita-cita organisasi.

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

Ada beberapa kriteria kepemimpinan pendidikan  yang baik dan sukses dalam  mengelola sekolah/madrasah. Salah satu  buktinya adalah sekolah yang dibinanya menjadi sekolah yang efektif. Ciri utama sekolah efektif, berdasarkan berbagai riset  meliputi: (1)kepemimpinan instruksional yang kuat; (2)harapan yang tinggi terhadap prestasi siswa; (3)adanya lingkungan belajar yang tertib dan nyaman; (4)menekankan kepada keterampilan dasar; (5)pemantauan secara kontinyu terhadap kemajuan  siswa; (6)terumuskannya tujuan sekolah secara jelas.

TIPE KEPEMIMPINAN

Ada  5 tipe kepemimpinan dan solusi untuk menyempurnakan pribadi seorang pemimpin/guru. Pertama, PERENIALISM. Sebuah pemikiran pendidikan paling tua. Jenis orang seperti ini berpikir bahwa, pendidikan bertujuan untuk mendorong intelektualitas sumber daya manusia. Siswa diberikan pengetahuan dan nilai-nilai sebanyak mungkin agar menjadi pintar dan berguna bagi masyarakat. Selama pembelajaran guru kurang memperhatikan minat dan motivasi. Guru memandang banyaknya ilmu yang ditransfer kepada siswa adalah yang terpenting. Guru cenderung menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai tanpa penjelasan dan alasan yang memadai. Siswa dituntut hafal apa dan harus seperti yang disampaikan gurunya, tanpa memahami arti yang sebenarnya. Pembelajaran seperti ini mencekam dan membuat siswa stres. Tetapi siswa harus bersabar dan patuh pada guru, itu yang utama, mutlak, dan otoriter. Jika kita tergolong tipe ini , dianjurkan pada guru untuk banyak melakukan studi komparatif dengan sekolah-sekolah lain yang lebih maju.

Kedua,  KONSERVATIF. Pemimpin  menganggap pendidikan sebagai alat untuk  penciptaan masyarakat yang intelek dan bermartabat. Pendidikan adalah untuk mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai yang dilakukan masa lalu dari guru kepada siswa, meski kadang-kadang terpaksa berubah dan menyesuaikan dengan kondisi  situasi pembelajaran saat ini. Guru tipe ini terpaksa mengalah pada situasi kondisi saat ini, tetapi tetap saja menyalahkan bahwa siswa sekarang sulit dinasehati, sulit diajari, tidak patuh, dan lain-lain. Jika kita termasuk guru seperti ini dianjurkan mencoba ide/metode/model/pendekatan pembelajaran yang berbeda ketika melaksanakan pembelajaran

Ketiga,  PROGRESSIF. Guru tipe ini cenderung liberal dan berbeda dengan tipe 1 dan 2. Guru berpikir bahwa pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan saja, melainkan lebih dari itu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengonstruk pengetahuan dalam diri siswa. Memberikan perhatian terhadap minat dan memberikan sentuhan perasaan pada siswa adalah hal yang penting pada proses pendidikan. Posisi ini sejalan dengan strategi dan gerakan pendidikan Indonesia saat ini. Untuk konsep pendidikan ini, Guru dianggap memahami strategi dan gerakan pendidikan tersebut serta mengadopsi ke praktik pendidikan. Guru tipe ini harus lebih berupaya dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan lebih lanjut tentang cara melakukan pembelajaran dengan kualitas yang lebih baik.

Keempat, LIBERAL. Tipe ini adalah guru yang sangat progessif. Sangat berlawanan dengan sifat perenialis (tipe 1). Pemikiran ini mengkritisi pembelajaran indoktrinasi dan behavioristik/hafalan. Guru berpikir bahwa hafalan tidak dibutuhkan karena dunia senantiasa berubah. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengonstruk pengetahuan dan ketrampilan hidup lebih penting dan urgen untuk mempersiapkan mereka hidup dalam masyarakat. Secara khusus ini adalah kemampuan Guru untuk keluar dari setiap masalah yang muncul dalam pendidikan melalui kinerja ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Guru mempunyai karakter kerjasama dan disiplin diri dan mengedepankan sikap ilmiah.  Guru berpikir bahwa pengalaman nyata baik fisik maupun mental adalah kegiatan kunci pada pembelajaran. Guru juga sangat respon terhadap kebijakan baru dalam dunia pendidikan. Guru harus banyak melakukan kampanye agar setiap warga sekolah dapat menerima ide progressif Anda.

SPIRITUAL LEADERDHIP

Hadis yang diriwayat Bukhari mengingatkan jika: Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Hal itu mengajarkan pada guru untuk melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Karena kelak akan dipertanggung jawabkan kepada Allah. Terjemahan Firman Allah terkait hidup sukses antara lain: (a)“...Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa di antaramu” (QS 49 al-Hujurat:13). (b)“...Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (QS 65 At-Thalaq:3), (c)“Dan memberinya rizki dari arah yang tiada di sangka-sangka...(QS 65 At-Thalaq:3). (d)“...dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS 65 At-Thalaq:4) . (e)“...dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan akan melipatgandakan pahala baginya...”(QS 65 At-Thalaq:5). (f)“Jika sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi...” (QS 7 Al-A’raaf: 96), (g)Dan katakanlah, yg benar telah datang dan yang bathil telah lenyap, sesungguhnya yg bathil itu pasti lenyap” (QS. Bani Israil:81)

INSAN CERDAS KOMPRENHENSIF  DAN  KOMPETITIF

Insan cerdas secara komprehensif

Para guru yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional sosial, intelektual dan  kinestetik. Cerdas spiritual, beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul, serta  menumbuhkan inner motivation, motivasi yang benar-benar tumbuh dari kesadaran yang prima. Cerdas emosional  sosial, beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasivitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya. Guru juga beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang: (1)membina dan memupuk hubungan timbal balik; (2)demokratis; (3)empatik dan simpatik; (4) menjunjung tinggi hak asasi manusia; (5) ceria dan percaya diri; (6)menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara; (7)berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara.

Cerdas intelektual, beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif dan imajinatif. Cerdas kinestetis, Beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, berdaya-tahan, sigap, terampil, dan trengginas. Aktualisasi insan adiraga.

Makna Insan Indonesia Kompetitif

Guru yang merupakan insan kompetitif memiliki kriteria: (1)Berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan, (2)Bersemangat juang tinggi, (3)Mandiri , (4)Pantang menyerah, (5)Pembangun dan pembina jejaringB, (6)ersahabat dengan perubahan, (7)Inovatif dan menjadi agen perubahan, (8)Produktif, (9)Sadar mutu, (10)Berorientasi global, (11)Pembelajar sepanjang hayat


Senin, 14 Februari 2022

Pesan Penting pada Buku Guru

 


Widyaiswara kedua Bapak Shodiq, Beliau pemateri yang sangat menyenangkan. Beliau menyiapkan psikis dan fisik peserta diklat dengan berbagai ice breaking. Kadang berupa trik seperti teknik sulap. Sehingga peserta diklat terfokus padanya. Setelah konsentrasi terpusat Beliau, maka segera disampaikan tentang materi inti. Adanya pesan penting yang sering dilupakan para guru. Pesan yang tertera pada Buku Guru. Guru belum memiliki kebiasaan berliterasi dengan baik. Panduan mengajar yang seharusnya dibaca dan dijadikan pedoman kadang sering dilupakan. Guru tidak mau tahu, betapa pentingnya buku guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Guru justru lebih memilih langsung menggunakan Buku Siswa tanpa melihat panduan di buku guru.

Buku Guru memiliki dua fungsi, yaitu sebagai petunjuk penggunaan buku siswa dan sebagai acuan kegiatan pembelajaran di kelas. Beberapa pesan dalam buku guru yang wajib dipahami adalah guru diharapkan memahami setiap Kompetensi Dasar dan Indikator yang dikaitkan dengan tema. Mengupayakan untuk mencakup Kompetensi Inti KI-1 dan KI-2 dalam semua kegiatan pembelajaran. Guru diharapkan melakukan penguatan untuk mendukung pembentukan sikap, pengetahuan, dan perilaku positif.  Mendukung ketercapaian Kompetensi Inti KI-I dan KI-2 dengan kegiatan pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah. Mencocok setiap langkah kegiatan yang berhubungan dengan buku siswa sesuai dengan halaman yang dimaksud. Membangkan ide-ide kreatif dalam memilih metode pembelajaran. Menemukan kegiatan alternatif apabila kondisi yang terjadi kurang sesuai dengan perencanaan (misalnya, siswa tidak bisa mengamati tanaman di luar kelas pada saat hujan).

Tugas guru lainnya yang diamanatkan dalam buku guru adalah memilih beragam strategi pembelajaran yang akan dikembangkan (misalnya siswa bermain peran, mengamati, bertanya, bercerita, bernyanyi, dan menggambar), selain melibatkan siswa secara langsung, diharapkan melibatkan warga sekolah dan lingkungan sekolah. Mengembangkan: (1) metode pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), (2) keterampilan bertanya yang berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, (3) keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, (4) keterampilan mengelola kelas dan pajangan kelas.

Guru seyogyanya menggunakan media atau sumber belajar alternatif yang tersedia di lingkungan sekolah. Hal lainnya yang perlu dipahami bahwa pada semester I terdapat 5 tema. Setiap tema terdiri atas 3 subtema. Masing-masing subtema diuraikan menjadi 6 pembelajaran. Setiap pembelajaran diharapkan selesai dalam 1 hari. Tiga subtema yang ada direncanakan selesai dalam jangka waktu 3 minggu. Aktivitas minggu ke-4 adalah kegiatan Aku Cinta Membaca. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa dan menanamkan rasa cinta membaca.

Perkiraan alokasi waktu dapat merujuk pada struktur kurikulum. Meskipun demikian, alokasi waktu menurut mata pelajaran hanyalah petunjuk umum. Guru diharapkan menentukan sendiri alokasi waktu berdasarkan situasi dan kondisi di sekolah dan pendekatan tematikterpadu. Pada  Buku Siswa dilengkapi dengan bahan-bahan latihan yang sejalan dengan pencapaian kompetensi. Hasil karya siswa dan bukti penilaiannya dapat dimasukkan ke dalam portofolio siswa. Sebagai upaya perbaikan diri, guru sebaiknya membuat catatan refleksi setelah satu subtema selesai. Misalnya faktor-faktor yang menyebabkan pembelajaran berlangsung dengan baik, kendala-kendala yang dihadapi, dan ide-ide kreatif untuk pengembangan lebih lanjut.

Guru wajib melibatkan semua siswa tanpa kecuali dan yakini bahwa setiap siswa cerdas dalam keunikan masing-masing. Dengan demikian, pemahaman tentang kecerdasan majemuk, gaya belajar siswa serta beragam faktor penyebab efektivitas dan kesulitan belajar siswa, sangat dibutuhkan. Demi pencapaian tujuan pembelajaran, diperlukan komitmen guru untuk mendidik sepenuh hati (antusias, kreatif, penuh cinta, dan kesabaran).

Guru juga harus melakukan kerja sama dengan orang tua secara khusus, di setiap awal sub tema Buku Siswa terdapat lembar untuk orang tua yang berjudul ‘Kerjasama dengan Orang tua’. Halaman ini berisi materi yang akan dipelajari, aktivitas belajar yang dilakukan siswa bersama orangtua di rumah. Serta saran agar anak dan orang tua bisa belajar dari lingkungan. Orang tua diharapkan berdiskusi dan terlibat dengan aktivitas belajar siswa. Saran-saran untuk kegiatan bersama antara siswa dan orang tua dicantumkan juga pada akhir setiap pembelajaran. Guru diharapkan membangun komunikasi dengan orang tua sehubungan dengan kegiatan pembelajaran yang akan melibatkan orang tua dan siswa di rumah.

Minggu, 13 Februari 2022

Pembelajaran Tematik Terpadu

 


Dalam diklat yang dilaksanakan tanggal 7 Pebruari sampai dengan 12 Pebruaari 2022 fokus membahas pembelajaran tematik. Beberapa guru berharap adanya diklat kurikulum prototipe. Walaupun harapan dan kenyataan yang diinginkan berbeda, mereka tetap patuh menyimak materi Diklat hari itu.  Pembelajaran Tematik Terpadu merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran Tematik Terpadu yang menghubungkan berbagai gagasan, konsep, keterampilan, sikap, dan nilai, baik antar mata pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran.

Alasan kuat pemilihan pembelajaran tematik  pada siswa SD/MIadalah: (1)Siswa kelas awal berpikir dengan cara HOLISTIK (menyeluruh/satu kesatuan), (2)Tidak paham konsep abstrak, (3)Kontekstual  (contextual teaching and learning). Mengapa harus melaksanakan pembelajaran tematik terpadu? Memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat belajar karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan bermakna bagi peserta didik. Tujuan pembelajaran tematik terpadu adalah; 1) mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu; 2) mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi muatan pelajaran dalam tema yang sama; 3)memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; 4) mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengkaitkan berbagai muatan pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik; 5) lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti bercerita, bertanya, menulis sekaligus mempelajari pelajaran yang lain; 6)lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas; 7) guru dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan bahkan lebih dan atau pengayaan; 8)budi pekerti dan moral peserta didik dapat ditumbuh kembangkan dengan mengangkat sejumlah n ilai budi pekerti sesuai dengan situasi dan kondisi

Sedangkan ciri pembelajaran tematik  antara lain berpusat pada anak., memberikan pengalaman langsung pada anak., pemisahan antarmuatan pelajaran tidak begitu jelas (menyatu dalam satu pemahaman dalam kegiatan), menyajikan konsep dari berbagai pelajaran dalam satu proses pembelajaran, bersifat luwes (keterpaduan berbagai muatan pelajaran)., hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak (melalui penilaian proses dan hasil belajarnya). Karakteristik pembelajaran tematik yaitu (a) Berpusat pada anak; (b)Memberikan pengalaman langsung pada anak, (c)Pemisahan antarmata pelajaran tidak nampak, (d)Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran;,(e)Bersifat luwes; (f)Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak, (g)MEMPELAJARI FENOMENA SECARA UTUH, (h)MELIHAT MASALAH SECARA HOLISTIK, (i)MEMECAHKAN MASALAH YANG DIHADAPI SISWA

 

 

Sabtu, 12 Februari 2022

Pembelajaran Saintifik


Ilmu yang dapat dipetik dari pelatihan pembelajaran tematik kemarin adalah, betapa pentinganya guru melakukan kegiatan pendahuluan. Kegiatan berupa menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis. Widyaiswara akan memulai menyampaikan materi ketika peserta diklat sudah berkonsentrasi. Ketika peserta diklat belum berkonsentrasi maka pemateri akan melakukan beberapa kegiatan yang mampu memfokuskan perhatian audiennya. Di antaranya menggunakan yel-yel yang menarik, lucu dan menyenangkan. Bisa juga menggunakan beberapa permainan yang ‘boom’, membuat peserta diklat terfokus pada pemateri. Beliau juga mengharapkan 30 guru peserta diklat melakukan demikian, saat proses belajar mengajar.

Selain itu Pak Rudi juga menyampaikan terkait pengembangan pembelajaran. Pembelajaran dikembangkan dengan berdasarkan karateristik mata pelajaran dan karakteristik kompetensi dasar. Berdasarkan karakteristik mata pelajaran berupa: (1) Pembelajaran langsung (Direct Teaching), (2)Pembelajaran tidak langsung (Indirect Teaching), (3)Mengembangkan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking), (4)Mengembangkan kemampuan bekerja secara ilmiah dan keselamatan diri serta lingkungan. Pengembangan pembelajaran berdasarkan karakteristik kompetensi dasar ini dengan cara menuangkan kompetensi abad ke-21 berupa 4C(Collaborative, Creative, Critical Thinking, Communicative), sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Dalam melaksanakan pembelajaran di kelas guru dapat model pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik (5M) dan guru diberi ruang menggunakan pendekatan/model pembelajaran lain. Pendekatan Saintifik Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, Mengasosiasi, Mengkomunikasikan (5M) sejatinya bukan satu-satunya pendekatan pembelajarandan bukan urutan langkah-langkah baku. Namun dengan pendekatan saintifik ini, guru dapat memberikan pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, mendorong ekosistem sekolah berbasis aktivitas ilmiah, menantang dan memotivasi. Selain itu guru diberi ruang menggunakan pendekatan/model pembelajaran lain. Beberapa pendekatan atau model berbasis aktivitas dan kreativitas, Juga model model pembelajaran yang menginspirasi, meyenangkan dan berprakarsa.

Madrasah telah melakukan pembelajaran tematik selama 8 tahun, sejak 2013. Ketika widyaiswara menanyakan tentang pengertian pembelajaran tematik. Para guru dalam diklat tersebut mencoba mendefinisikannya sesuai dengan pemahamannya masing-masing. Kesimpulannya pembelajaran tematik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran terpadu (integrated learning). Pembelajaran yang memadukan beberapa konsep mata pelajaran dengan menggunakan tema sebagai pemersatu.

Jumat, 11 Februari 2022

Konsep Pembelajaran Tematik

 

Bagi seorang guru mengikuti Diklat Di Wilayah Kerja (DDWK) merupakan   anugerah yang  tak terkira. Meskipun ada tanggung jawab melaksanakan kegiatan Rencana Tindak Lanjut (RTL).  Pada  hari  pertama, pemateri dari widyaiswara Balai Diklat Surabaya membahas tentang Konsep Pembelajaran Tematik. Beliau  menyampaikan  sebuah fenomena yang terjadi pada siswa ketika melaksanakan pembelajaran daring. Dengan istilah learning loss, sebuah situasi di mana peserta didik mengalami penurunan kemampuan belajar sebagai dampak dari hilangnya makna/ruh kegiatan pembelajaran, yaitu hilangnya hak peserta didik untuk mendapatkan pengalaman belajar dari kegiatan pembelajaran yang diikuti.

Selanjutnya pembahasan terkait pengertian kurikulum menurut UU No. 20/2003. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,  bahan pelajaran, dan cara menilai yang digunakan  sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Beliau juga menyampaikan kompetensi sekolah dasar/MI yang meliputi dimensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Dimensi sikap meliputi: (1)Beriman dan berakhlak mulia, (2)Memiliki ilmu (terdidik), (3)Percaya diri, (4)Bertanggung jawab, (5)Harmonis dengan lingkungan sosial dan alam. Dimensi pengetahuan meliputi: (1)Agama, IPTEKS dan budaya, (2)Faktual, (3) Konseptual,(4) Prosedural, (5)Metakognitif. Pada dimensi Keterampilan: (1)Berpikir (LOTS-HOTS), (2) Psiko-motorik, (3)Berbasis pengetahuan. Implementasi dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan; memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan jenjang pendidikan.

Prinsip Pembelajaran yang dibahas saat itu tentang (1)Hardskills –softskills, (2)Pemberdayaan-pembudayaan, (3)Keteladanan- kemauan-pembelajaran, (4)Rumah-sekolah-masyarakat, (5)Kemitraan guru-siswa, (6)Optimalisasi TIK, (7) Penghargaan terhadap siswa. Menurut pemateri ada perubahan paradigma pembelajaran dari  pembelajaran: diberitahu, guru sebagai sumber utama, tekstual, berbasis konten, parsial, jawaban tunggal, verbalisme. Berubah menjadi: mencari tahu, berbasis aneka sumber belajar, pendekatan ilmiah, berbasis kompetensi, holistik/terpadu, kebenaran jawaban multi dimensi, keterampilan aplikatif.