Minggu, 06 Juni 2021

Penyusunan Rancangan Pembelajaran Berbasis Literasi & Numerasi


Setelah para guru MI memahami model dan media pembelajaran berbasis literasi dan numerasi. Maka selanjutnya akan membahas tentang penyusunan RPP berbasis literasi dan numerasi. Guru diharapkan mampu mengintegrasikan literasi, numerasi, 4C, pembelajaran HOTS, karakter pada sebuah pembelajaran. Komponen tersebut diintegrasikan dalam: (1) dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), (2) bahan ajar, (3)penilaian, (4)pembiasaan (perilaku guru dan siswa). Pengintegrasian dalam RPP antara lain dapat dilakukan pada: (1)rumusan tujuan pembelajaran, (2)rancangan aktivitas pembelajaran, (3) rancangan penilaian, (4) rancangan sumber belajar, (5) pemilihan metode pembelajaran. 

Pengintegrasian literasi, numerasi, 4C, pembelajaran HOTS, karakter pada tujuan pembelajaran dirumuskan dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:(a)mengacu pada indikator pencapaian kompetensi, (b) mempertimbangkan kondisi pembelajaran yang dapat dilakukan pada masa pandemi Covid-19, (c) urutan tujuan pembelajaran mengacu pada sintaks/urutan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan, (d) unsur-unsur tujuan pembelajaran yang lengkap terdiri atas A (Audience), B (Behavior), C (Condition), D (Degree), (e)rumusan tujuan pembelajaran harus jelas, spesifik, operasional, dan terukur. Contoh pengintegrasian melalui rumusan tujuan pembelajaran dalam RPP:

1.     Melalui project based learning, peserta didik  dapat menentukan ciri hewan Kanguru Mantel Emas dan menyajikan data dalam diagram batang serta menghitung panjang tubuh Kanguru Mantel Emas

2.       Melalui kegiatan mengamati dan berdiskusi, peserta didik  dapat menjelaskan manfaat energi, menentukan dan menghitung banyaknya energi pada makanan dengan benar

3.     Dengan membaca dan mengamati gambar, peserta didik dapat mengidentifikasi bagian-bagian penyususn pada sel hewan dan sel tumbuhan.

4.  Melalui kegiatan membaca, peserta didik dapat mendeskripsikan struktur penyusun tubuh makhluk hidup.

5.  Setelah mempelajari struktur penyusun tubuh makhluk hidup, peserta didik dapat  menganalisis kejadian yang berkaitan dengan fungsi organ tubuh  di kehidupan sehari-hari.

6.  Dengan project based learning, peserta didik dapat membuat model sel hewan atau sel tumbuhan  dengan menggunakan bahan yang ada dilingkungan.

7.      Melalui problem based learning, peserta didik  dapat menerapkan tata cara sholat tarawih dan mempraktekkan tata cara sholat tarawih.

 

 

    Contoh-contoh RPP berbasis literasi dan numerasi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Satuan Pendidikan

:

………

Tema/Subtema

:

7. Energi/1. Energi dalam Kehidupan

Kelas/Semester

:

VI/2

Alokasi Waktu

 

1 x pertemuan


A.     
Kompetensi Dasar

IPA

:

3.5 Mengidentifikasi komponen listrik dan fungsinya serta menjelaskan, menyalurkan, dan menghemat energi listrik

4.5 Menyajikan karya tentang berbagai cara melakukan penghematan energi dan usulan sumber alternatif energi listrik.

Bahasa Indonesia

:

3.2 Menggali isi teks penjelasan (eksplanasi) ilmiah yang didengar dan dibaca

4.2  Menyajikan hasil penggalian informasi dari teks penjelasan (eksplanasi) ilmiah secara lisan, tulis dan visual dengan menggunakan kosa kata baku dan kalimat efektif

 


B.      
Tujuan Pembelajaran

Melalui kegiatan mengamati dan berdiskusi, peserta didik  dapat menjelaskan manfaat energi, menentukan dan menghitung banyaknya energi pada makanan dengan benar

 

C.      Langkah-Langkah Pembelajaran

 

Kegiatan

Dekripsi

        Pendahuluan         

      

  • Guru mengucapkan salam, doa, cek kehadiran dan mempersiapkan    perlengkapan dan peralatan yang diperlukan (orientasi)
  •  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, cakupan materi, langkah   pembelajaran dan teknik  penilaian
  • Guru mengaitkan Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan dipelajari dan diharapkan dikaitkan dengan pengalaman peserta didik  ( Apersepsi )
  • Guru memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.       ( motivasi )
  • Guru menampilkan teks tentang energi dalam makanan

Inti                                        

 

  •  Guru menyampaikan tujuan tugas yang harus dikerjakan siswa  

         “ Mengamati tabel dan menghitung banyaknya energi pada                    makanan.”( literasi dan numerasi )

  • Guru membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)      Guru memantau keaktifan,kerjasama dan keberanian peserta didik  dalam mengungkapkan pendapat selama melakukan diskusi, serta memantau realisasi  dan membimbing jika mengalami kesulitan (collaboration  dan creativity)
  • Guru memantau keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan LKPD. Mengukur ketercapaian hasil diskusi yang dibuktikan dengan peserta didik dapat menghitung kalori makanan.
  • Siswa mempresentasikan hasil kerja dan ditanggapi peserta didik lainnya. Mengukur ketercapaian hasil kerja yang yang dibuktikan dengan peserta didik dapat menghitung kalori makanan. ( critical thinking dan communication)
  • Guru membimbing pemaparan hasil kerja siswa

Penutup

  • Guru meminta peserta didik menuliskan/menceritakan tentang pengalaman belajar yang baru saja di dapatkan dan membuatkan kesimpulan ( refleksi)
  • Guru memberi penguatan terhadap hasil kesimpulan siswa
  •  Guru memberikan apresiasi  atas partisipasi  semua peserta didik (umpan balik )
  •  Peserta didik diminta mencari permasalahan lain yang melibatkan satuan berat, penjumlahan bilangan cacah dan pecahan, serta mempelajari materi “Sumber-sumber energi dalam kehidupan” untuk pertemuan berikutnya ( tugas selanjutnya )

 

  D.      Penilaian : Rubrik penilaian pengetahuan (menghitung besarnya energi pada makanan)

    dan ketrampilan hasil kerja: hasil pekerjaan siswa

 

 

 

 

 

Kepala Madrasah

 

 

 

 ………………………………..

 


Teks yang akan disajikan: 

LKPD berbasis lierasi dan numerasi

Tugas terkait LKPD:

Refleksi pada akhir pembelajaran:

REFLEKSI

1.      Manfaat apa yang kamu peroleh dari hasil kerja yang telah dibuat?

2.      Tulislah hal-hal yang menarik dari pengalaman belajarmu!

3.      Apa yang perlu ditingkatkan dari proses pembelajaran?

Trenggalek, …. Mei 2021

 

Guru Kelas VI

 

 

 

 ……………………………..

 



 

 

 

 

 

 

 

    


                                                          



MEDIA PEMBELAJARAN DAN STRATEGI LITERASI

 


Diseminasi pembelajaran berbasis literasi dan numerasi pada hari kedua memang sangat menyenangkan. Setelah membahas tentang media pembelajaran numerasi, ada juga yang menanyakan tentang pembelajaran berbasis literasi. Bagaimana cara guru melaksanakan pembelajaran berbasis literasi? Bisakah hanya literasi saja? Bagaimana contohnya jika digabung dengan numerasi? Bisakah dilaksanakan antar mapel? Sebenarnya guru menggunakan strategi literasi dalam melaksanakan pembelajaran (dalam semua mata pelajaran). Pelaksanaan strategi literasi didukung dengan penggunaan pengatur grafis. Selain itu, semua mata pelajaran sebaiknya menggunakan ragam teks (cetak/visual/digital) yang tersedia dalam buku-buku pengayaan atau informasi lain di luar buku pelajaran. Guru diharapkan bersikap kreatif dan proaktif mencari referensi pembelajaran yang relevan. Jadi media pembelajaran berbasis literasi menggunakan media multimoda, seperti audio, visual, audiovisual, media beragam genre, multiteks dan multiliterasi.

Media dan sumber pembelajaran literasi bisa diambil dari masalah otentik. Misalnya masalah di rumah siswa, masalah di sekolah terkait materi, masalah lokal (di masyarakatnya), masalah nasional, masalah global. Kasus yang dibuat dengan cara membuat narasi pelaksanaan percobaan/ kegiatan yang tidak sesuai prinsip/ teori (disalah-salahkan). Bisa juga membuat kasus yang sesuai indikator. Masalah otentik lainnya adalah realita atau objek di sekitar kita, masalah di sekitar kitakemudian diintegrasikan beberapa mata pelajaran untuk satu masalah. Kasus yang dibuat dengan cara membuat masalah yang direkayasa. Disesuaikan dengan konteks pembelajaran dan konteks sekolah. Siswa juga bisa menggunakan conoh produk/proyek terintegrasi dengan beberapa mata pelajaran.

 Masalah lokal antara lain masalah di rumah siswa, masalah di sekolah yang terkait materi. Media yang bisa dibuat untuk membantu dalam proses pembelajaran antara lain: 


Himbauan di atas dapat dijadikan bahan untuk berdiskusi. Namun harus disesuaikan dengan tema yang akan dibahas siswa. Misalnya terkait kewajiban mematuhi peraturan di masyarakat. 


Gambar di atas bisa digunakan untuk diskusi siswa dengan guru. Terutama tentang petunjuk penggunaan barang/alat. Biasanya petunjuk penggunaan yang sering didiskusikan tentang cara menggunakan stop kontak, memasak menggunakan magiccom, blender dan lain-lain. Maka media di atas bisa digunakan agar diskusi lebih bervariasi dan lebih kekinian.


Informasi di atas bisa dijadikan bahan diskusi yang menarik pada pembelajaran Fiqih. Informasi yang dibahas lebih kontekstual.


Himbauan Wapres Ma'ruf Amin tentang shalat tarawih bisa dijadikan media membahas materi tentang shalat sunah. Sehingga anak-anak lebih memiliki kemampuan untuk memahami berita yang hangat pada media sosial.


Masalah global pada gambar di atas bisa dijadikan media diskusi untuk siswa kelas 5-6 agar siswa lebih tertarik dan pembelajaran lebih menyenangkan. 

Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran, syaratnya adalah:


Tidak menyinggung tentang perbedaan suku, ras, memperdebatkan secara negatif perbedaan antar golongan, agama, politik. Juga dijadikan wadah untuk promosi produk, menunjukkan erotisme dan kekerasan.

Jumat, 04 Juni 2021

Media Pembelajaran Berbasis Numerasi

 

Pada tanggal 25 Mei 2021 setelah pemaparan model pembelajaran berbasis literasi dan numerasi, maka akan dilanjutkan dengan membuat media pembelajaran. Apakah sebetulnya media? Media merupakan alat yang dapat membantu proses belajar mengajar sehingga makna pesan yang disampaikan menjadi lebih jelas dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Media juga sebagai alat bantu yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Media yang dibuat tidak harus dari alat dan bahan yang mahal. Cukup dari bahan-bahan bekas atau peralatan sederhana, murah dan mudah di dapat. Meskipun guru juga dituntut mampu membuat media pembelajaran literasi dan numerasi berbasis IT. Misalnya media pembelajaran game, kuis online dan lain-lain.

Selang Penjumlahan

Untuk media dari bahan bekas yang mudah dipakai adalah media permainan ‘selang penjumlahan’. Bahan yang dibutuhkan bekas botol air mineral, wadah plastik, selang, kelereng dan tripleks. Cara membuatnya: botol air mineral 2 buah dipotong menjadi 2. Yang digunakan adalah potongan botol yang ada lehernya. Leher botol disambungkan dengan selang. Selang dihubungkan dengan wadah plastic, kemudian seluruh media ditempel ke triplek.



Sedotan Nilai Tempat

Peralatan bekas yang dibutuhkan bekas botol mineral bisa juga pipa PVC, sedotan dan triplek. Cara membuatnya: bekas botol mineral/ pipa PVC di tempel pada papan triplek. Kemudian diberi tanda berupa tulisan nilai tempat seperti satuan, puluhan, ratusan, ribuan.



Ultrasi = Ular Tangga Numerasi

Permainan ular tangga numerasi pada kertas karton yang memuat 100 soal. Siswa bermain ular tangga secara berpasangan. Setiap siswa secara bergantian akan melempar dadu dan melangkah sesuai jumlah angka pada dadu, sehingga siswa akan mendapatkan soal. Kemudian ia membaca soal dan menjawabnya. Jika tidak bisa menjawab maka siswa dilarang melanjutkan perjalanan ke tangga berikutnya.



Engklek

Permainan ini bisa digambar pada lantai ruang kelas atau halaman sekolah. 4 orang siswa akan menempati titik hitam, merah, hijau dan kuning. Siswa akan maju atau mundur sesuai dengan perintah guru/temannya.


Demikian media pembelajaran berbasis numerasi. Semoga kita bisa mengembangkan media pembelajaran berbasis numerasi.

Menyederhanakan Model Pembelajaran


 

Tanggal 25 Mei 2021 proses diseminasi makin menghangat. Para guru tidak hanya menanyakan sintak dari masing-masing model pembelajaran. Namun juga membahas tentang kemampuan siswa MI dalam menerapkan model pembelajaran tersebut. Mampukah mereka melakukan penyelidikan terbimbing (discovery)? Bisakah mereka melakukan penelitian mandiri melalui inquiry? Maka jawabannya  sederhana mereka mampu melaksanakannya jika sintak model pembelajaran tersebut kita sederhanakan. Sebagai gambaran siswa kelas V menanam sayuran di halaman MIM Kamulan. Mereka menemukan satu polybag tanaman terong mulai terhambat pertumbuhannya. Maka masalah yang kontekstual ini bisa dijadikan pembelajaran menggunakan model discovery dan inquiry sederhana. Tanpa terasa mereka telah melakukan penelitian.

Jika guru ingin menerapkan discovery maka siswa diajak menemukan tanaman terong lain yang mengalami permasalahan pertumbuhan. Setelah ditemukan tanaman terong tersebut dikumpulkan. Melalui pembelajaran discovery learning siswa diminta mengamati, mencatat dan menyimpulkan penyebab terhambatnya pertumbuhan terong di halaman MIM Kamulan. Namun jika ingin melakukan pembelajaran melalui inquiry learning dan siswa harus mampu mencapai kompetensi memahami penyebab terong terhambat pertumbuhannya. Siswa ditugaskan untuk mencari penyebab dari berbagai sumber. Mereka diperbolehkan membaca buku di perpustakaan, googling diinternet, dan sumber-sumber lainnya. Kemudian siswa menghubungkan hasil pengamatannya dengan informasi yang mereka diperoleh dari berbagai sumber.

Sedangkan pada pembelajaran  problem based learning/PBL, kegiatan guru menjelaskan tujuan pembelajaran, peralatan yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat aktif pada kegiatan pemecahan masalah yang dipilih.  Guru membimbing siswa berkelompok dan berkolaborasi untuk menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah yang tertuang dalam LKPD. Selanjutnya guru memotivasi siswa mengunpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan penyelidikan baik dengan membaca buku, menelaah data dari berbagai referensi seperti buku, majalah, internet, hasil wawanacara dan lain-lain. Gurupun harus membimbing siswa mengolah hasil temuannya baik berupa data, maupun alasan logis. Guru juga tetap harus mendampingi siswa dalam menyusun laporan tertulis dam lisan. Bisa juga berupa makalah, mind mapping atau infografis. Yang harus tetap diterapkan kepada siswa adalah memotivasinya agar secara bergilir, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain memberikan tanggapan baik berupa pertanyaan, tanggapan, maupun usulan. Kegiatan dilanjutkan dengan menyusun kesimpulan sesuai  dengan masukan yang diperoleh dari kelompok lain.

Karena kemarin yang hadir adalah guru kelas rendah (kelas 1, 2, 3) dan guru kelas tinggi (kelas 4, 5, 6). Sehingga muncul pertanyaan: mampukah siswa kelas 1, 2, 3 berdiskusi, berkolaborasi dan presentasi? Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa diskusi di kelas rendah dapat diterapkan dengan cara sederhana. Siswa diberikan LKPD, mereka dibimbing menjawab LKPD dalam kelompoknya. Kegiatan tersebut sudah termasuk diskusi (bekerja kelompok) dan kolaborasi (bekerja sama menyelesaikan tugas). Presentasi di kelas rendah tidak harus menggunakan power point, menggunakan LCD. Cukup membaca LKPD, kelompok lain menanggapi dengan cara bertanya, menyampaikan saran maupun usulan. Jika mereka tidak dilatih presentasi, memaparkan materi. Kelak jika sudah dewasa merekapun akan selalu takut, menghindar jika diberi tugas berhadapan dengan audien.

Sedangkan pada project based learning/PJBL, yang dilakukan guru dengan menyampaikan permasalahan  yang harus diselesaikan atau menyampaikan tugas pada siswa untuk membuat sesuatu  serta menanyakan cara menyelesaikannya. Guru membimbing siswa menyusun desain perencanaan produk yang logis dan praktis.  Ketika siswa hendak menyusun produk, guru memperbolehkan siswa agar mencari referensi dari buku, media elektronik, internet dan para ahli. Guru sebaiknya membuat kesepakatan dengan siswa. Kesepakatan tersebut antara lain: waktu siswa harus memulai proyeknya, kapan bisa melakukan bimbingn dengan guru, serta waktu proyek tersebut harus dikumpulkan. Secara berkala guru akan memeriksa sampai pada tahap mana perkembangan  proyek yang dikerjakan siswa. Guru juga harus memeriksa keaktifan setiap anggota kelompok dalam menyelesaikan proyek. Jadi guru harus membuat lembar monitoring pelaksanaan proyek.

Dari beberapa guru kelas rendah muncul pertanyaan. Mampukah siswa kelas 1, 2 dan 3 melakukan pembelajaran berbasis proyek? Saya jawab, siswa kelas 2 MIM Kamulan pernah melaksanakan pembelajaran berbasis proyek mempelajari pertumbuhan tanaman dengan menanam kecambah pada bekas gelas air mineral. Kelas 6 menanam bamer, baput, lengkuas, kentang, cocor bebek, wortel untuk membuktikan reproduksi secara vegetatif alami.

Kamis, 03 Juni 2021

Model Pembelajaran Berbasis Literasi dan Numerasi

 


Tanggal 25 Mei 2021 merupakan pelaksanaan diseminasi hari kedua. Secara tak terduga Bu Rinda benar-benar tidak datang. Maka saya harus bersiap untuk menyampaikan materi Beliau. Materi ini membahas tentang: Model Pembelajaran Berbasis Literasi & Numerasi, Penyusunan Media Pembelajaran Berbasis Literasi & Numerasi, dan Penyusunan Rancangan Pembelajaran Berbasis Literasi & Numerasi. Sebelum membahas tentang tiga tema di atas, terlebih dahulu mendiskusikan kondisi yang diharapkan oleh kemendikbud. Ekosistem madrasah yang diinginkan adalah madrasah sebagai tempat memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan yang beragam. Proses belajar berorientasi pada siswa. Pengajaran sebagai aktivitas tim yang kolaboratif. Literasi dan numerasi menjadi muatan utama asesmen dan kurikulum. Karena literasi dan numerasi adalah kompetensi yang sifatnya general dan mendasar.

Model Pembelajaran berbasis Literasi & Numerasi

Model pembelajaran yang diharapkan dalam pembelajaran berbasis literasi dan numerasi adalah model pembelajaran berpikir tingkat tinggi (HOTS). Model pembelajaran yang dimaksud adalah: (a) discovery learning, (b) inquiry learning, (c) problem based learning, (d) project based learning. Karena berdasarkan penelitian telah membuktikan bahwa model-model pembelajaran tersebut merupakan pembelajaran yang mengharuskan siswa belajar tingkat tinggi (HOTS). Ada seorang guru yang menanyakan sintak asli model-model di atas sebelum disederhanakan. Model tersebut disederhanakan karena digunakan untuk siswa tingkat MI.

Sintak asli atau tahapan discovery learning adalah: (1)memberikan rangsangan, (2) identifikasi masalah, (3)pengumpulan data, (4) pengolahan data, (5)pembuktian, (6) menarik kesimpulan. Aktivitas guru pada tahap memberikan rangsangan adalah menyajikan fenomena berkaitan dengan materi pembelajaran yang mengandung permasalahan. Bentuk rangsangan yang diberikan berupa pertanyaan, teks tulis, video yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Pada langkah kerja kedua yakni identifikasi masalah, guru memberi kesempatan kepada peserta didik. Kesempatan untuk mengidentifikasi masalah yang relevan dengan bahan pelajaran sebanyak-banyaknya. Kemudian siswa menentukan hipotesis atau jawaban sementara atas pertanyaan masalah. Pada tahapan ini siswa belajar literasi, mencermati teks/ permasalahan dan menuliskan kalimat terkait identifikasi masalah yang sedang dibahas.

Pada tahapan pengumpulan data aktivitas guru adalah menugaskan siswa untuk melakukan eksplorasi dengan cara mengumpulkan informasi dan data yang relevan dengan permasalahan untuk membuktikan hipotesis. Kemudian guru membimbing siswa mengolah data, dengan cara menafsirkan dan menganalisis data, mengelompokkan data. Pada kegiatan ini siswa mengasah ketrampilan numerasinya dengan menyajikan dalam tabel atau grafik. Siswa bisa menyajikan dalam bentuk laporan penelitian. Pada tahapan pembuktian, pada tahapan ini guru membimbing siswa melakukan presentasi untuk memaparkan temuannya dalam diskusi kelas. Akhirnya guru membimbing siswa menyusun kesimpulan.

Inilah model pembelajaran discovery, pembahasan tentang model inquiry, PBL, dan PjBL akan saya coba menuliskan esok hari.

Rabu, 02 Juni 2021

Diseminasi Pembelajaran Berbasis Literasi

 


Hari kedua diseminasi, saya hadir di tempat acara lebih awal. Sambil menunggu acara dimulai, mencoba memberi semangat pada Bu Khatim. Karena bagi Beliau, menjadi fasilitator merupakan  pengalaman pertama. Meskipun demikian Beliau berkenan datang dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Ketika saya tengah berbincang-bincang dengan Bu Khatim, Bu Istiqomah (Kepala MI Pakis) memanggil kami untuk menghadap Pengawas Madrasah. Sesampainya di kantor MI Pakis, Pengawas Madrasah menyampaikan bahwa saya harus mendampingi Bu Khatim. Tugas saya belum selesai, meskipun telah menyampaikan tanggung jawab sebagai fasilitator pada hari pertama. Bilamana Bu Rinda tidak hadir, yang menggantikan tugas Bu Rinda adalah saya. Padahal materi itu belum saya pahami secara detail. Sejak tanggal 17 Mei 2021 kegiatan sosial banyak sekali. Mulai rewang ke rumah tetangga, membantu persiapan saudara dekat menikahkan anaknya (lamaran ke catin pria maupun wanita) juga melaksanakan pesta pernikahan. Selain itu anak bungsu saya, juga baru saja khitan. Namun saya tidak berani menolak. Karena karakter Bapak Pengawas Madrasah kecamatan Durenan jika memberikan tugas harus diterima.

Maka saya mohon Bu Khatim memaparkan materinya terlebih dahulu. Saya akan memahami materi yang menjadi tanggung jawab Bu Rinda. Materi Bu Khatim terkait pembelajaran berbasis literasi. Tujuan materi ini adalah memahami konsep, jenis, karakteristik pembelajaran  berbasis literasi. Memahami langkah merancang pembelajaran. Mempraktikkan pembelajaran  berbasis literasi. Setelah memaparan materi kedua nanti para guru akan berlatih membuat RPP berbasis literasi secara berkelompok. Secara kebahasaan literasi merupakan kegiatan membaca/memirsa, berpikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan/ berpartisipasi sebagai warga Indonesia dan warga global (mahluk yang mempertanggungjawabkan kehidupannya di akhirat kelak). Kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks  untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat mengambil keputusan berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Tujuan penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran. Membangun pemahaman peserta didik, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Tiga hal ini akan bermuara pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Membangun pemahaman peserta didik, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Tiga hal ini akan bermuara pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pemantauan pemahaman teks (siswa merekam pemahamannya sebelum, ketika, dan setelah membaca).

Karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi adalah:(1)penggunaan berbagai moda selama pembelajaran (literasi multimoda), (2)instruksi yang jelas dan eksplisit, (3) memanfaatan alat bantu seperti pengatur grafis dan daftar cek, (4) Respon terhadap berbagai jenis pertanyaan, (5) membuat pertanyaan (mengajak berpikir dari data), (6) melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi  teks (berpikir tingkat tinggi), (7) Meringkas isi teks. Teks multimedia dan teks multimoda di dalamnya mencakup elemen-elemen visual, audio, dan teknologi untuk menciptakan makna. Multimodality adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada cara orang berkomunikasi menggunakan genre dan moda yang berbeda pada saat bersamaan. Penggunaan beberapa semiotic modes dalam desain produk, atau peristiwa semiotik secara bersamaan. Analisis multimodal mencakup analisis komunikasi dalam segala bentuknya, tetapi secara khusus berkaitan dengan teks yang berisi interaksi dan integrasi dua atau lebih sumber semiotik - atau 'mode' komunikasi - untuk mencapai fungsi komunikatif teks. Sasaran pembelajaran berbasis literasi berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, mudah beradaptasi, dan komunikatif, kreatif, kemampuan memimpin, kreator, dan kewirausahaan, memiliki wawasan global, kreatif, mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan sosial, serta berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budaya.

Pada akhir Beliau menyampaikan materi ada pertanyaan dari salah satu guru dari MITT Sumbergayam terkait pengintegrasian ketrampilan literasi, kecakapan 4C dan karakter dalam RPP. Terutama hubungan anatar tujuan pembelajaran dengan LKPD. Tujuan pembelajaran yang dimaksud tertera pada power point dengan bunyi: dengan  membaca dan mengamati gambar peserta didik dapat mengidentifikasi bagian-bagian penyusun pada sel hewan dan tumbuhan. Maka pengembangan LKPDnya adalah sebagai berikut ini:


Gambar di atas bisa dijadikan LKPD dengan kegiatan belajar mencermati gambar di atas. Memahami organel-organel penyusun sel hewan dan tumbuhan. Kemudian tugas siswa melengkapi diagram venn secara berkelompok. 

 

Diseminasi Bimtek Pembelajaran Berbasis Literasi dan Numerasi



Setelah mengikuti webinar Bimtek Pembelajaran Berbasis Literasi dan Numerasi yang diadakan pada tanggal 3 Mei sampai 6 Mei 2021. Maka Pengawas Madrasah, KKG dan KKM kecamatan Durenan mengadakan rapat persiapan diseminasi. Rapat dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2021, di rumah makan 46. Dalam rapat tersebut Pengawas Madrasah meminta para fasilitator untuk bersiap menyampaikan materinya. Begitu pula kepala madrasah sekecamatan Durenan diminta untuk berpartisipasi dan mendukung kegiatan diseminasi. Kesimpulan rapat ketua panitia acara diseminasi adalah Bapak Ibnu Mubarok Almarzuki, kepala MIM Kamulan. Sedangkan Ibu Rinda menyampaikan materi dengan tema Pembelajaran Berbasis Literasi dan Numerasi. Bu Rinda dan Pengawas Madrasah akan menyampaikan materi pada hari pertama pada tanggal 24 Mei 2021. Sedangkan Bu Khatim dan saya akan menyampaikan materi hari kedua. Bu Khatim memilih materi Pembelajaran berbasis literasi, dan saya menyampaikan materi Merdeka Belajar_RPP Sederhana.

Menjelang hari pelaksanaan diseminasi Bu Rinda mengundurkan diri dari team fasilitator diseminasi. Beliau tidak bersedia menjadi fasilitator. Saya tidak mampu menjawab atau memutuskan boleh tidaknya ia mengundurkan diri. Karena pelaksanaan diseminasi telah ditentukan jadwalnya dan dilakukan secara serempak sekabupaten Trenggalek. Pelaksanaannya secara tatap muka, dengan mematuhi protokol kesehatan. Keesokan harinya pelaksanaan diseminasi dilaksanakan, tepat tanggal 24, 25, 26 dan 27 Mei 2021. Tanggal 24 Mei merupakan pembukaan diseminasi dan penyampaian materi oleh Pengawas madrasah tentang kebijakan kementerian agama dan materi pembelajaran literasi dan numerasi.

Penyampaian materi pertama berjalan dengan lancar, pengawas madrasah menyampaikan materi kebijakan kementerian agama tentang pelaksanaan AKM. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) akan dilaksanakan pada Bulan Agustus 2021. AKM bertujuan meningkatkan mutu pendidikan. Tujuan asesmen pendidikan adalah untuk meningkatkan mutu. Asesmen dilakukan tidak  hanya untuk memantau dan mengevaluasi (memberi judgement atau penilaian kinerja). Asesmen nasional dirancang agar menghasilkan informasi yang memicu perbaikan kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Asesmen nasional ini merupakan program evaluasi yang dilakukan Kemendikbud untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses dan output pada seluruh satuan pendidikan. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar peserta didik yang mendasar, berupa literasi, numerasi dan karakter. Serta kualitas belajar mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

Ketika  materi kedua harus segera dipaparkan Bu Rinda tidak kunjung datang. Maka ketua panitia menginginkan materi hari kedua disampaikan setelah pengawas madrasah selesai menyampaikan kebijakan kemenag. Segera materi tentang RPP sederhana disampaikan. Dalam materi ini bukan hanya RPPnya sederhana namun prinsip-prinsip penyusunannya juga disederhanakan. Hanya ada 3 prinsip penyusunan RPP yaitu efisiensi, efektif dan berorientasi pada peserta didik. Penulisan RPP dilakukan dengan tepat dan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga (efisiensi). Penulisan RPP dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran (efektif). Penulisan RPP dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan, dan kebutuhan belajar murid di kelas (berorientasi pada peserta didik). Tiga komponen inti (minimal) dalam RPP: tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian pembelajaran (asesmen). Komponen-komponen lainnya  (identitas, KD, materi ) merupakan  komponen pelengkap.

Pada tujuan pembelajaran harus ada komponen: Audience (A), Behaviour (B), Condition (C), Degree (D). Untuk Degree (D) bisa saja tidak ada/ tidak harus ada. Guru dalam mengembangkan pembelajaran, pada kegiatan pembelajaran harus menerapkan pembelajaran HOTS, literasi, numerasi, 4C, karakter dan  potensi kecerdasan majemuk peserta didik. Fasilitator mengingatkan ketika OJL hari Rabu diharapkan peserta diseminasi dalam menyusun RPP mematuhi kriteria penulisan RPP yang baik. Misalnya, pembuatan tujuan yang harus memiliki 4 komponen berupa ABCD. Juga dalam penyusunan langkah pembelajaran  harus ada pembukaan inti dan penutup. Pada pembukaan aktivitas guru dalam menyiapkan peserta didik berupa memberi motivasi, apersepsi, menyampaikan KD dan cakupan materi. Aktivitas peserta didik  dalam proses pembelajaran inti untuk mencapai kompetensi dasar harus memperhatikan metode yang digunakan, media pembelajaran, sumber belajar, karakteristik peserta didik dan harus tetap sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

Pada kegiatan penutup pada RPP harus menampakkan aktivitas bersama antara guru dan peserta didik berupa refleksi untuk mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas. Refleksi ini misalnya menanyakan manfaat apa yang diperoleh siswa pada pembelajaran. Bisa juga siswa diminta menuliskan hal-hal yang menarik dari pengalaman belajar. Atau siswa diminta memberi saran yang perlu ditingkatkan pada proses pembelajaran. Setelah itu guru memberi umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran. Tidak lupa guru melakukan kegiatan tindak lanjut dengan memberi tugas dan melakukan kegiatan tindak lanjut. Sedangkan untuk penilaian atau proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Aspek yang harus dinilai meliputi sikap, pengetahuan dan penilaian.

Demikan penyampaian materi hari pertama diseminasi yan dilaksanakan di MI Pakis.